Home Tazkiyah Merawat Istiqamah: Meneguhkan Hati di Tengah Ujian Kehidupan

Merawat Istiqamah: Meneguhkan Hati di Tengah Ujian Kehidupan

cahaya
Ilustrasi cahaya menembus/Istock

Harmantajang.com – Istiqamah bukanlah perjalanan yang selalu mudah. Ada masa ketika langkah terasa berat, semangat melemah, dan berbagai ujian datang silih berganti.

Namun, di tengah keadaan tersebut, seorang Muslim dituntut untuk tetap teguh dalam ketaatan dan tidak mudah berpaling dari jalan Allah.

Perintah Istiqamah dan Perjuangan Mengokohkan Hati

Perintah untuk senantiasa beristiqamah merupakan salah satu ajaran yang sangat agung sekaligus berat dalam Islam. Allah berfirman kepada Nabi Muhammad untuk tetap istiqamah sebagaimana yang diperintahkan dalam Surah Huud ayat 112.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu menyatakan bahwa tidak ada satu pun ayat di dalam Al-Qur’an yang terasa lebih berat dan lebih sulit bagi Rasulullah daripada ayat ini.

Baca Juga: Pemuda Qur’ani: Energi Hidup, Cahaya Masa Depan

Jika Rasulullah  yang berstatus ma’sum (terjaga dari dosa) dan telah diampuni seluruh dosanya tetap diperintahkan untuk selalu istiqamah serta diberi penguatan hati oleh Allah.

Keteguhan hati dan ketetapan dalam ketaatan sepenuhnya berada di tangan Allah. Oleh sebab itu, seorang hamba tidak boleh merasa tertipu atau sombong dengan amal ibadah dan kesalehan yang telah dilakukannya.

Perlindungan Malaikat dan Kabar Gembira Saat Sakratul Maut

Bagi hamba-hamba yang mantap menyatakan “Rabb kami adalah Allah” lalu menetapi jalan istiqamah.

Ketika menghadapi detik-detik sakratul maut, para malaikat akan turun dalam jumlah yang banyak untuk menguatkan dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang beriman.

Para malaikat membisikkan pesan agar mereka tidak merasa takut menghadapi urusan masa depan seperti kematian, alam barzakh, hari hisab, dan neraka serta tidak bersedih atas hal-hal duniawi yang ditinggalkan, seperti keluarga, harta, maupun kedudukan.

Malaikat menegaskan peran mereka sebagai pelindung (wali) bagi orang-orang yang istiqamah, baik dalam kehidupan dunia maupun di akhirat.

Di surga kelak, segala bentuk kenikmatan yang diinginkan oleh jiwa dan setiap apa yang diminta akan dikabulkan sebagai hidangan kehormatan dari Allah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Baca Juga: Berubah Menuju Allah: Mujahadah Menata Kehidupan

Surga Dunia berupa Ketenangan Batin dan Kebahagiaan Abadi di Akhirat

Istiqamah tidak hanya membuahkan balasan di akhirat, tetapi juga memberikan kenikmatan sejati selama hidup di dunia. Wajah orang-orang beriman yang istiqamah senantiasa memancarkan cahaya dan kebahagiaan batin.

Sebab mereka mengenal Allah, masjid, sholat, sujud, puasa, sedekah, serta gemar bersilaturrahim dan berbakti kepada kedua orang tua, meskipun kehidupan materi mereka tampak sederhana.

Sebaliknya, orang-orang yang jauh dari Allah sering kali diliputi rasa takut, kegalauan, dan kegelisahan batin meskipun bergelimang kemewahan materi dan teknologi.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah menjelaskan bahwa di dunia ini terdapat “surga dunia”, yaitu ketenangan jiwa dan ketenteraman hati ketika seorang hamba mengenal Rabbnya.

Siapa saja yang tidak memasuki surga dunia tersebut, niscaya diharamkan baginya untuk memasuki surga akhirat. Ketenangan jiwa yang dirasakan hamba beriman berbanding lurus dengan tingkat kedekatannya kepada Allah.

Balasan puncak bagi mereka yang istiqamah adalah menjadi penghuni surga yang kekal di dalamnya sebagai balasan atas amal saleh yang telah mereka kerjakan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here