Harmantajang.com – Di tengah riuh dan bergejolaknya kejahatan di muka bumi ini yang kadang kala menjadi pintu masuk seseorang menggadai aqidah dan tauhidnya. Untuk itu, sangat penting bagi kita Merawat Tauhid di Akhir Zaman.
Tauhid adalah Harta yang Paling Berharga
Seperti diketahui aqidah Tauhid merupakan harta yang paling berharga, sehinga kita harus menjaganya demikian halnya rupa agar tidak ternodai oleh aqidah kekufuran dan kesyirikan sedikitpun.
Itulah sebabnya, Rasulullah sebagai bukti serta bentuk cinta dan kasih sayangnya kepada kita umatnya, beliau selalu mengingatkan untuk tidak melakukan hal-hal yang berpotensi merusak aqidah Tauhid di dalam diri kita sebagai seorang hamba.
Salah satunya adalah dengan tidak berlebihan dalam menempatkan, menghormati, dan memuliakan orang-orang yang dianggap shalih, termasuk itu para Nabi dan Rasul Allah.
Baca Juga: Serangkaian Kisah Para Calon Penghuni Surga
Suatu ketika, Sahabat Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah berkata di atas mimbar:
سمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «لاَ تُطْرُونِي، كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ، وَرَسُولُهُ»، رواه البخاري
Artinya:
“Aku pernah mendengarkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Janganlah kalian berlebihan memujiku seperti orang-orang Nasrani berlebihan memuji (Isa) putra Maryam. Karena aku tidak lain hanyalah hamba (Allah). Maka (cukup) katakan: (bahwa aku) adalah hamba dan utusan Allah!” (HR. Al-Bukhari).
Hal ini tidak mengherankan, karena sikap ghuluw atau berlebihan dalam memuliakan orang shalih sejak zaman Nabi Nuh ‘alaihissalam telah menjadi penyebab dan pemicu utama tergelincirnya dalam kesyirikan pada Allah Ta’ala.
Nabi Isa Menolak Ideologi yang Memposisikannya sebagai Tuhan
Dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala berfirman menjelaskan kesesatan logika Nasrani:
إِنَّ مَثَلَ عِيسَى عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
Artinya:
“Sesungguhnya perumpamaan Isa di sisi Allah itu seperti perumpamaan Adam (yang) diciptakanNya dari tanah, lalu Dia mengatakan padanya: ‘Jadilah’, maka jadilah ia.” (Surah Ali Imran: 59).
Karena itu, Nabi Isa ‘alaihissalam sendiri telah menolak ideologi yang memposisikannya sebagai tuhan bahkan jauh sebelum beliau dipertuhankan!. Allah Ta’ala berfirman:
وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
Artinya:
“Dan (Isa) al-Masih telah berkata: ‘Wahai Bani Israil! Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhan kalian, (karena) sesungguhnya siapa saja yang menyekutukan Allah, maka Allah akan mengharamkan Surga untuknya, dan tempat kembalinya adalah Neraka, dan tidak (akan) ada penolong bagi orang-orang yang zhalim.” (Surah al-Ma’idah: 72).
Baca Juga: Memasuki Usia Senja Ketaatan jangan Pudar
Kekufuran bagi Manusia-manusia yang Meyakini ‘Trinitas’
Bahkan secara lebih tegas dan vulgar, Allah Azza wa Jalla menyatakan kekufuran manusia-manusia yang meyakini Allah Ta’ala sebagai satu dari tiga oknum, yang biasa dikenal sebagai “Trinitas”. Allah Ta’ala berfirman:
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ ﴾ [المائدة: 73]
Artinya:
“Sungguh benar-benar telah kafir: orang-orang yang mengatakan bahwa Allah adalah satu dari 3 oknum, (padahal) tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Tuhan yang satu (yaitu Allah). Dan jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan, niscaya mereka pasti orang-orang kafir itu akan disentuh adzab yang sangat pedih.” (Surah al-Ma’idah: 73).
Apakah ada yang lebih tegas dari perkataan Allah Ta’ala ini? Karena itu, tidak ada pilihan bagi seorang muslim, bagi seorang ahli Tauhid, selain meyakini bahwa ideologi “Allah adalah satu dari 3 oknum tuhan” adalah kekufuran.
Siapapun yang meyakininya adalah seorang kafir menurut al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Dan Nabi Isa ‘alaihissalam tidak pernah mengajarkan keyakinan sesat dan kufur seperti itu! Nabi Isa ‘alaihissalam bahkan membantah bahwa beliau pernah menyampaikan ideologi kufur seperti itu!.




