Home Aqidah Mewaspadai Syaithan: Menjaga Jiwa dari Kesyirikan dan Bid’ah

Mewaspadai Syaithan: Menjaga Jiwa dari Kesyirikan dan Bid’ah

Langit
Ilustrasi Langit/Istock

Harmantajang.com – Syaithan adalah musuh yang nyata bagi manusia yang senantiasa memerintahkan perbuatan jahat, keji, dan mengajak manusia untuk berbicara tentang Allah tanpa ilmu.

Aqidah yang Ternoda: Ancaman Syirik

Salah satu langkah paling berbahaya yang dilakukan syaithan adalah menjerumuskan manusia ke dalam syirik, karena ia tahu bahwa Allah tidak akan mengampuni dosa tersebut jika pelakunya meninggal tanpa bertaubat,

Selain syirik, syaithan juga menggoda manusia melalui bid’ah (perkara baru dalam urusan agama). Bid’ah terjadi ketika seseorang berkreasi dalam ibadah dengan cara yang tidak pernah dicontohkan Rasulullah.

Baca Juga: Mengenal Hikmah di Balik Takdir: Menyelami Rahasia Ketetapan Allah

Amalan semacam ini tertolak di sisi Allah karena agama Islam telah disempurnakan, sehingga apa pun yang bukan merupakan perkara agama pada masa Rasulullah, maka bukan pula menjadi perkara agama di masa sekarang.

Jebakan Dosa Kecil dan Berlebih-lebihan dalam Perkara Mubah

Sering kali, ketika seseorang telah berhasil menjaga diri dari syirik dan bid’ah, syaithan akan beralih menggunakan taktik lain, yaitu melalui dosa-dosa kecil.

Syaithan membuat manusia meremehkan dosa kecil dengan anggapan bahwa rahmat Allah sangat luas, padahal tumpukan dosa tersebut dapat menutupi hati dengan titik-titik hitam.

Meskipun tidak ada dosa besar jika dihapus dengan istighfar, perlu diingat pula bahwa tidak ada dosa kecil jika dilakukan secara terus-menerus.

Selain itu, syaithan menggoda manusia melalui perkara mubah yang dilakukan secara berlebihan, seperti dalam hal makan, minum, atau tidur. Dalam hal ini, terdapat perbedaan antara Mubazzir dan Al-Israf.

Mubazzir adalah menghamburkan harta dalam perkara haram (seperti membeli minuman keras), sedangkan Al-Israf adalah membelanjakan harta pada sesuatu yang mubah secara berlebih-lebihan.

Kedua tindakan ini dilarang karena dapat membuat seseorang menghabiskan waktu pada hal yang tidak bermanfaat.

Membangun Benteng Perlindungan dari Gangguan Syaithan

Mengingat syaithan tidak pernah berhenti menggoda, manusia perlu membangun benteng perlindungan yang kuat melalui beberapa cara berikut:

Memperbanyak Istighfar: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, yang telah diampuni dosanya, tetap beristighfar dan bertaubat lebih dari 70 hingga 100 kali setiap hari.

Baca Juga: Mencintai Sahabat Nabi: Fondasi Iman dan Aqidah yang Kokoh

Isti’aza (Meminta Perlindungan): Membiasakan diri memohon perlindungan kepada Allah dari bisikan syaithan, terutama saat sedang marah dengan mengucapkan “A’udzubillahi minassyaitanirrajim”.

Membaca Ayat-Ayat Pelindung: Dianjurkan membaca Ayat Kursi serta surah-surah muawwizat (Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Naas) dan doa dari akhir surah Al-Baqarah sebelum tidur.

Berdzikir kepada Allah: Dzikir adalah sarana paling ampuh untuk membuat syaithan menghindar. Sebaliknya, bagi mereka yang berpaling dari mengingat Allah, syaithan akan dijadikan teman yang selalu menyertainya.

Dengan senantiasa bertaubat dan memohon perlindungan kepada Sang Pencipta syaithan, seorang hamba dapat menjaga jiwanya dari ketergelinciran.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here