Mewaspadai Tipu Daya dan Perangkap Syaitan dalam Kehidupan

Bulan
Ilustrasi laut dan bulan/Istock

Harmantajang.com – Perseteruan antara manusia dan syaitan adalah permusuhan abadi yang telah berlangsung sejak zaman Nabi Adam hingga hari kiamat kelak. Dalam Surat Al-Baqarah Ayat 168, Allah berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ كُلُوا۟ مِمَّا فِى ٱلْأَرْضِ حَلَٰلًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

Artinya: Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.

Untuk menjaga keimanan, penting bagi kita memahami bagaimana syaitan bekerja dan bagaimana cara membentengi diri.

Penyakit Hati sebagai Pintu Masuk Utama Syaitan

Syaitan sering kali masuk melalui celah penyakit hati, terutama hasad (iri hati) dan kibr (kesombongan).

Hasad adalah dosa pertama yang terjadi di langit dan di bumi, di mana pelakunya merasa tidak senang melihat orang lain mendapatkan nikmat. Penyakit ini sangat berbahaya karena dapat memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.

Selain hasad, kesombongan juga menjadi penyebab terusirnya Iblis dari surga karena ia merasa lebih baik daripada Adam yang diciptakan dari tanah, sementara dirinya dari api.

Baca Juga: Merawat Istiqamah di Era Akhir Zaman

Syaitan terus berusaha menanamkan sifat ujub (bangga diri) bahkan kepada orang-orang yang rajin beribadah agar mereka merasa telah aman dari fitnah.

Strategi “Khutuwat”: Menyesatkan Melalui Langkah-Langkah Kecil

Syaitan tidak selalu menjerumuskan manusia ke dalam dosa besar secara langsung, melainkan melalui khutuwat atau langkah-langkah kecil yang bertahap.

Allah telah memperingatkan dalam Al-Qur’an agar manusia tidak mengikuti langkah-langkah ini, yang sering kali dimulai dari hal-hal yang dianggap remeh.

Sebagai contoh, dalam dosa zina, syaitan memulainya dari pandangan mata (nazar), lalu berlanjut ke senyuman, sapaan, janji perjumpaan, hingga akhirnya terjadi kemaksiatan.

Baca Juga: Merawat Amal Ibadah Secara Konsisten!

Begitu pula dalam hal makanan, syaitan berusaha menormalisasi yang haram dengan menghiasi namanya agar manusia merasa penasaran dan tergoda untuk mencoba.

Membangun Benteng Pertahanan dengan Istiadzah dan Ilmu

Senjata utama seorang mukmin dalam menghadapi syaitan adalah dengan meminta perlindungan kepada Allah (Istiadzah) dan senantiasa berzikir.

Ketika merasakan bisikan keburukan, kita diperintahkan untuk segera memutus jalur maksiat tersebut dan berlindung kepada Allah, sebagaimana yang dilakukan Nabi Yusuf saat digoda.

Zikir merupakan hal yang paling ditakuti oleh syaitan; orang yang terbiasa membaca zikir saat keluar atau masuk rumah, akan mendapatkan perlindungan dan kecukupan dari Allah sehingga syaitan tidak mampu mendekat,

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here