Nikmat sebagai Ujian dan Mengingat Kematian sebagai Tujuan

Berdoa
Ilsutrasi seorang sedang Berdoa/Unplash

Harmantajang.com – Allah telah menganugerahkan nikmat yang tak terhingga kepada manusia, bahkan jika kita mencoba menghitungnya, niscaya kita tidak akan mampu. 

Oleh karena itu, sebagai seorang Muslim, kewajiban utama kita adalah untuk senantiasa bersyukur. Rasa syukur ini tidak hanya di dalam hati, tetapi harus diwujudkan melalui lisan, hati, dan perbuatan.

Syukur Melalui Lisan dan Penolak Kesombongan

Salah satu cara bersyukur yang paling mendasar adalah bersyukur dengan lisan (asyukru bil lisan), yaitu dengan senantiasa membasahi lidah kita dengan pujian kepada Allah, seperti mengucapkan “Alhamdulillah”. 

Zikir dan kalimat-kalimat yang baik akan diangkat kepada Allah dan memberatkan timbangan amal kebaikan kita. Nabi Muhammad bahkan berpesan, “Usahakan lisanmu senantiasa basah dengan zikir kepada Allah”.

Mengucapkan “Alhamdulillah” saat mendapatkan nikmat memiliki makna yang dalam. Selain sebagai pujian, ucapan ini berfungsi untuk mengembalikan segala keutamaan kepada Allah dan meruntuhkan sifat ujub (kagum pada diri sendiri) dan sombong di dalam hati. 

Al-Qur’an mengingatkan bahwa manusia cenderung menjadi sombong ketika diberi kelebihan, baik berupa harta, pangkat, maupun jabatan. Dengan bersyukur, kita mengakui bahwa tiada daya dan upaya kecuali atas izin Allah.

Baca Juga: Menjadi Hamba Dunia atau Hamba Tuhan?

Nikmat sebagai Ujian dan Teladan Nabi Sulaiman

Setiap nikmat yang kita terima pada hakikatnya adalah ujian dari Allah. Allah menciptakan kehidupan dan kematian untuk menguji siapa di antara kita yang terbaik amalannya. Nikmat tersebut akan menguji apakah kita akan semakin dekat kepada Allah atau justru menjadi kufur dan lupa diri.

Allah memberikan teladan agung melalui kisah Nabi Sulaiman AS, seorang nabi sekaligus penguasa yang diberi kelebihan luar biasa. Pasukannya terdiri dari jin, manusia, dan burung; beliau mengerti bahasa binatang, bahkan mampu menundukkan angin. 

Namun, semua kelebihan itu tidak menjadikannya sombong. Beliau justru berdoa, “Ya Allah, berilah kepadaku petunjuk untuk senantiasa mensyukuri nikmat-Mu…”

Nabi Sulaiman menyadari bahwa semua itu adalah karunia dari Allah untuk menguji apakah ia bersyukur atau kufur.Bentuk syukur yang nyata adalah dengan meningkatkan amalan saleh. 

Contohnya adalah ketika seruan azan dikumandangkan, orang-orang beriman meninggalkan pekerjaannya untuk bergegas ke masjid, ruku, dan sujud kepada Allah. Mereka yang rajin memakmurkan masjid disebut Allah sebagai rijal (orang-orang pilihan), yang tidak diperbudak oleh dunianya.

Hidayah dalam Beribadah dan Kepastian Kematian

Baca Juga: Sungai Taubat: Jalan Penyucian Dosa dan Kunci Meraih Rahmat-Nya

Setiap amalan ibadah, sekecil apapun, hanya dapat kita lakukan atas izin, taufik, dan hidayah dari Allah. Inilah mengapa saat muazin mengumandangkan “hayya alas shalah”, kita dianjurkan menjawab dengan “la haula wala quwwata illa billah” (tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah). 

Banyak orang yang kuat mengangkat beban berat di gym, namun terasa sangat berat untuk mengangkat selimut di waktu subuh. Ini menunjukkan bahwa tanpa pertolongan Allah, kita tidak akan mampu menyambut seruan-Nya. 

Bahkan para penghuni surga kelak akan berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan hidayah kepada kami, dan kami tidak akan mendapat hidayah jika bukan karena Allah.”.

Pada akhirnya, kita harus selalu mengingat bahwa tujuan kita di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Allah; selain itu hanyalah selingan dan perhiasan dunia yang menipu. Umur umat ini pun singkat, hanya berkisar antara 60 hingga 70 tahun. 

Kematian adalah sebuah rahasia Allah yang pasti datang, namun tidak ada satu jiwa pun yang tahu kapan dan di mana ia akan dijemput. Bisa jadi orang yang sehat mati tiba-tiba, sementara yang sakit parah masih diberi kesempatan hidup.

Oleh karena itu, pertanyaan yang harus selalu kita ajukan pada diri sendiri bukanlah “kapan kita akan mati?”, melainkan “apa yang telah kita persiapkan untuk menghadap Allah?”.

Bekal terbaik adalah ketakwaan, karena kita tidak pernah tahu apakah kita masih bisa hidup hingga esok pagi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here