بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Seorang lelaki di makkah bernama Abu Ghayyats kisah ini terjadi pada tahun 240 hijriyah pada waktu itu di makkah masih banyak orang fakir/miskin, Abu Ghayyats adalah orangnya sangat miskin dan dia hidup bersama dengan istrinya bernama Lubaba kemudian memiliki 4 orang putri kemudian ibu Abu Ghayyats, mertuanya, 1 iparnya yang juga tinggal bersamanya, jumlah orang yang tinggal dalam rumah Abu Ghayyats sebanyak 9 orang, kisah ini terjadi pada bulan suci ramadhan, ketika hendak berbuka beliau hanya memiliki beberapa butir kurma yang dibagikan kepada keluarganya yang tinggal bersamanya setelah itu tidak ada lagi makanan yang bisa mereka makan.

Akhirnya beliau keluar berharap ada yang memberi beliau sedekah walaupun beliau tidak meminta – minta, sebagaimana dulu Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu beliau pernah kelaparan kemudian keluar bertemu Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu dan sengaja menanyakan beberapa pertanyaan padahal sebenarnya ia menunggu agar diajak oleh Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu untuk makan akan tetapi Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu tidak faham isyarat tersebut setelah menjawab pertanyaan akhirnya ia kemudian pergi, beliau pergi ke rumah Umar Radhiyallahu ‘anhu dan berharap agar diajak makan oleh Umar Radhiyallahu ‘anhu akan tetapi Umar Radhiyallahu ‘anhu juga tidak faham. Beliau kemudian pergi ke menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam  belum ia berbicara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian langsung mengajak kerumahnya.

Abu Ghayyats ketika keluar tidak ada yang memberinya sedekah beliau akhirnya duduk dibawah sebuah bangunan yang terbuat dari tanah sambil menjulurkan kakinya, dimalam hari tiba –tiba ia merasakan ada benda diatas kakinya, beliau kemudian menariknya dan khawatir jangan sampai benda ini adalah sesuatu yang bergerak, beliau mengambil tongkat sambil mencungkilnya ternyata setelah ia lihat benda tersebut adalah ikat pinggang yang biasa digunakan jama’ah haji dan umrah untuk menyimpan harta bendanya pada ikat pinggang tersebut, ternyata setelah ia buka beliau mendapatkan sesuatu dalam bungkusan tersebut 1000 dinar emas, ia kemudian kaget dan membawa kerumahnya ia perlihatkan kepada istrinya Lubaba, Lubaba kemudian mengatakan:”Alhamdulillah”, Abu Ghayyats mengatakan:”Tidak, dalam hukum syar’i semua yang didapatkan di kota makkah semuanya haram dan tidak boleh dipungut dan diambil kecuali untuk diumumkan”, Istrinya lubaba mengatakan:”Tapi kita dalam keadaan terdesak”, ia kemudian mengatakan:”Tidak, walaupun kita terdesakkita umumkan terlebih dahulu siapa pemilik barang ini”, padahal anak dan keluarganya sangat berharap harta tersebut bisa menjadi milik keluarganya.

(Oleh karennya perlu menjadi pelajaran bagi kita terhadap harta karena dulu ada orang kaya yang hilang hartanya kemudian berdoa:”Ya Allah jangan sampai hartaku itu jatuh kepada orang fakir atau orang fakih, karena jika dia fakir atau miskin tidak memiliki ketakwaan dan wara dia ambil kalau orang fakih (ahli Fiqih) dia bisa mendapatkan banyak dalil untuk menghalalkan barang tersebut).

Akhirnya Abu Ghayyats menyimpan barang temuan tersebut didalam rumahnya, ia kemudian keluar dari rumahnya lalu datanglah salah seorang lelaki tua yang berasal dari khurasan dia menyampaikan berita kehilangan ditengah orang banyak ia mengatakan:”Saya kehilangan sebuah bungkusan dan siapa yang mendapatkannya silahkan ia mengantarkan ke tempat saya ini, Abu Ghayyats melihat dan berkata dalam hatinya ternyata yang punya adalah orang ini, Abu Ghayyats mendatanginya dan tidak langsung mengatakan bahwa beliau yang menemukannya dia berkata kepada orang itu:”Wahai pak tua coba sampaikan siapa yang mendapatkan barang itu maka dia akan mendapatkan barang ini (maksudnya barang yang ia temukan)“, akan tetapi pak tua itu mengatakan:”Tidak, siapa yang mendapatkan barang itu silahkan ia mengembalikan ke tempat ini dan dia tidak akan mendapatkan apa – apa“, akhirnya abu ghayyats pulang ke rumahnya.

Ke’esokan harinya kembali orang ini mengumumkan barangnya yang hilang tersebut dengan mengatakan:”Siapa menemukannya tolong dikembalikan”, Abu Ghayyats kemudian berkata:”Wahai pak tua tolonglah mengatakan bahwasanya siapa yang menemukannya maka dia mendapatkan 100 dinar supaya mereka semua ini bersemangat mencari harta tersebut”, ia mengatakan:”Tidak walaupun 1 dinar”, ia kemudian pulang kerumahnya dalam keadaan lapar di hari kedua, sampai dirumahnya istrinya lubaba mengatakan:”Kita ini sudah sangat terdesak, ambil saja sedikit kemudian kita kembalikan, kita ini sudah bersabar dengan kefakiran selama 50 tahun wahai Aba Ghayyats“, Abu Ghayyats kemudian mengatakan:”Subhanallah, 50 tahun kita bersabar dengan kefakiran dan saya sekarang sudah berusia 80 tahun bagaimana mungkin saya bisa bersabar 50 tahun dengan kefakiran dan diakhir – akhir hidupku saya membuang jasadku ini kedalam neraka“, akhirnya beliau tidak setuju.

(Oleh karenanya berhati – hatilah dengan istri karena seorang suami bisa goyah karena istri kecuali yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wata’ala, ada seorang istri sholehah ketika suaminya pergi mencari nafkah ia mengatakan:”Wahai suamiku cari nafkah yang halal saya dan anak – anakku bisa menahan lapar dan dahaga akan tetapi tidak mampu menahan dahsyatnya api neraka“).

Kembali lagi pak tua dari khurasan ini mengatakan:”Siapa yang mendapatkan barang saya tolong dikembalikan“, Abu Ghayyats kemudian mengatakan:”Tidakkah anda mau mengatakan dia akan mendapatkan satu dinar upah”, orang tua ini mengatakan:”Tidak, siapa yang mendapatkan kembalikan kepada saya dan saya akan mendoakan agar mendapatkan pahala disisi Allah“, akhirnya Abu Ghayyats pasrah dan mengatakan:”Kemarilah ikut kerumah, barang yang engkau cari ada dirumah saya“, akhirnya beliau mengaku.

Subhanallah, ada salah seorang penuntut ilmu yang melihat selama 3 hari kejadian tersebut, ia kemudian ikut membuntuti kedua orang itu kembali kerumahnya, setelah pak tua ini masuk ke rumahnya Abu Ghayyats kemudian mengambil bungkusan tersebut, ia kemudian membuka bungkusan tersebut didepan Abu Ghayyats dan menghitungya setelah ia hitung ternyata hasilnya pas 1000 dinar, kemudian uang tersebut dibungkus kembali dan pak tua tersebut langsung pergi dan membawanya, padahal istri dan keluarganya berharap agar diberi imbalan namun ternyata tidak, bahkan ucapan terima kasih pun tidak, akhirnya terputuslah semua angan – angan Abu Ghayyats dengan pasrah, Akhirnya penuntut ilmu yang melihat kejadian tersebut membuntuti pak tua tersebut ternyata dia pergi ke jarak yang tidak terlalu jauh ia kemudian kembali lagi ke rumah Abu Ghayyats dan mengetuk pintu rumahnya lalu dipersilahkan pak tua masuk oleh Abu Ghayyats sambil mengatakan:”Ada yang bisa saya bantu..?”, pak tua tersebut mengatakan:”Sebenarnya 1000 dinar ini adalah warisan dari orang tua saya, orang tua saya meninggalkan 3000 dinar dan dia berwasiat sepertiganya 1000 dinar untuk dibawa di kota makkah dan dibagikan kepada orang – orang miskin dimakkah dan saya liat tidak ada orang miskin selain anda maka ambillah semuanya”, pak tua tersebut langsung pergi sambil memberi salam kepada Abu Ghayyats, Abu ghayyats kemudian bersyukur kepada Allah Subhanahu wata’ala dan memanggil semua keluarganya 9 orang, dan Abu Ghayyats juga melihat seorang penuntut ilmu yang ada diluar kemudian berkata:”Kemarilah wahai anak muda, mengapa engkau berada distu”, sang penuntut ilmu kemudian mengatakan:”Saya selama 3 hari berturut –turut mengikuti apa yang terjadi oleh karenanya saya penasaran membuntuti sampai ditempat ini”,

Akhirnya 1000 dinar itu ia bagi 10,  9 orang wanita masing – masing 100 dinar dan 100 dinar diberikan kepada penuntut ilmu, dan penuntut ilmu ini ia pergunakan harta tersebut untuk pergi mencari ilmu dan penuntut ilmu ini bernama Ibnu Jarir Ath ThabariRahimahullah beliau adalah syaikhul mufassirin (Ahli Tafsir) dan beliau sampaikan kisah ini dalam bukunya Tarikh Al Umam Wal Muluk.

Abu Ghayyats berkata kepada istrinya:”Coba lihat, kita bersabar dengan 1 dinar yang tidak kita ambil Allah kemudian menggantikan dengan 1000 dinar”.

Ini merupakan pelajaran terkadang Allah Subhanahu wata’ala menguji kita dengan sesuatu yang ada didepan kita untuk menggantikan dengan yang lebih baik..

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئاً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ

Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik.” (HR. Ahmad 5: 363).

Berjalan kurang lebih 20 tahun Ibnu Jarir Ath Thabari Rahimahullah pergi menuntut ilmu ketika kembali ke makkah ia mencari Abu Ghayyats namun beliau telah meninggal dunia dan puteri –puterinya ternyata di persunting oleh para pengeran dan para raja.

Akhirnya Ibnu Jarir Ath Thabari Rahimahullah menceritakan kisah beberapa tahun yang lalu dan mereka kemudian sangat bergembira dan bersyukur beliau mengikram Ibnu Jarir Ath Thabari Rahimahullah, dan ternyata Abu Ghayyats pada hari itu setelah ia berbuka ia membagi-bagikan makanan kepada orang – orang fakir yang ada di kota makkah dan hal ini sebagaimana terdapat dalam hadist Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam doa beliau dan harap kita senantiasa memanjatkan doa:”Ya Allah aku berlindung kepada mu dari kekayaan yang tidak menjadikan kami sombong, dan dari kemiskinan yang tidak menjadikan kami lupa“. Tidak mengapa kita meminta kekayaan asalkan tidak membuat kita lupa dan sombong.Wallahu A’lam Bish Showaab



Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Ahad, 13 Jumadil Akhir 1438 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

ID LINE :  http://line.me/ti/p/%40nga7079p

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here