Home Sirah Pelita di Tengah Kegelapan: Menelusuri Kemuliaan dan Jejak Dakwah Rasulullah

Pelita di Tengah Kegelapan: Menelusuri Kemuliaan dan Jejak Dakwah Rasulullah

Pelita
Ilustrasi pelita di kegelapan/Istock

Harmantajang.com – Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus oleh Allah sebagai nabi akhir zaman dengan misi utama mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju alam yang terang benderang.

Beliau bukan sekadar pembawa pesan, melainkan sosok yang disifatkan sebagai cahaya (nur) dan pelita (siraj) yang memberi petunjuk ke jalan yang lurus.

Al-Qur’an dan Rasulullah sebagai Cahaya di Atas Cahaya

Allah  menurunkan Al-Qur’an sebagai ruhan (ruh) dan nuran (cahaya) yang menjadi pelita bagi umat manusia.

Al-Qur’an adalah cahaya dari Allah yang dibawa oleh Malaikat Jibril (Ar-Ruh Al-Amin) dan diturunkan kepada Rasulullah, yang juga disifatkan sebagai pembawa cahaya.

Kesatuan ini menciptakan “nurun ‘ala nur” (cahaya di atas cahaya) yang menerangi jalan bagi orang-orang beriman.

Begitu tingginya kedudukan beliau sehingga Nabi Muhammad pernah menegaskan bahwa andaikata Nabi Musa AS masih hidup saat ini, tidak ada jalan lain baginya kecuali mengikuti risalah beliau.

Keistimewaan dan Pembelaan Allah terhadap Sang Nabi

Salah satu bukti kecintaan Allah yang luar biasa kepada Nabi Muhammad adalah bagaimana Allah menyapa beliau di dalam Al-Qur’an.

Berbeda dengan nabi-nabi lain yang sering dipanggil langsung dengan namanya (seperti “Ya Nuh” atau “Ya Ibrahim”), Allah tidak pernah memanggil “Ya Muhammad” secara langsung di dalam Al-Qur’an.

Baca Juga: Seni Menjalani Hari: Panggilan untuk Berhenti Menunda

Sebaliknya, Allah menyapa beliau dengan gelar kemuliaan seperti Ya Ayyuhan Nabi, Ya Ayyuhar Rasul, atau berdasarkan kondisi beliau seperti Ya Ayyuhal Muzammil dan Ya Ayyuhal Muddatir.

Allah juga secara langsung membela kehormatan beliau dari tuduhan-tuduhan kaum munafik, terutama dalam peristiwa pernikahan beliau dengan Zainab binti Jahsy.

Allah menegaskan bahwa Muhammad bukanlah ayah dari salah seorang lelaki di antara umatnya (dalam konteks hubungan darah dengan anak angkat), melainkan utusan Allah dan penutup para nabi.

Selain itu, Allah menjamin bahwa beliau tidak akan melupakan wahyu yang telah ditalkinkan, kecuali apa yang memang dikehendaki Allah untuk dihapuskan atau diganti.

Keteguhan dalam Ujian dan Warisan Kecintaan Sahabat

Perjalanan dakwah Rasulullah dipenuhi dengan ujian berat, seperti pada Perang Uhud di mana sempat tersiar kabar burung bahwa beliau telah wafat.

Baca Juga: Jangan Menunda, Raih Ampunan dan Surga-Nya

Kabar tersebut mengguncang mental kaum muslimin, namun Allah menurunkan firman-Nya untuk menegaskan bahwa Muhammad adalah seorang Rasul yang bisa saja wafat atau terbunuh, namun perjuangan membela agama Allah harus tetap berjalan.

Keteguhan ini tercermin pula saat Rasulullah benar-benar wafat. Ketika Umar bin Khattab merasa kalut dan tidak menerima kenyataan tersebut.

Abu Bakar Ash-Siddiq tampil menenangkan umat dengan mengingatkan bahwa siapa yang menyembah Muhammad, maka Muhammad telah wafat, namun siapa yang menyembah Tuhan Muhammad, maka Allah Maha Hidup dan tidak akan pernah mati.

Para sahabat menunjukkan bahwa mencintai Rasulullah harus melampaui kecintaan terhadap diri sendiri, karena hanya dengan kecintaan itulah keimanan seseorang menjadi sempurna dan mereka akan dikumpulkan bersama beliau di surga kelak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here