Harmantajang.com – Kehidupan dunia sering kali menjadi pengejaran utama manusia, namun bagi seorang beriman, dunia memiliki kedudukan yang berbeda.
Dalam pandangan Islam, dunia adalah tempat ujian sekaligus ladang untuk menanam amal yang akan dipanen di akhirat kelak.
Perbedaan Tujuan: Mengejar Dunia atau Menginginkan Akhirat
Allah membukakan pintu dunia kepada siapa saja, baik mereka yang beriman maupun yang ingkar. Namun, terdapat perbedaan mendasar pada hasilnya.
Barang siapa yang hanya mengejar dunia, Allah akan memberikannya sesuai keinginan-Nya, tetapi bagi mereka yang menginginkan kehidupan akhirat dan berusaha dengan ketaatan, Allah akan memberikan balasan yang mulia.
Penting untuk diingat bahwa dunia ini diibaratkan sebagai penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir. Orang yang tidak taat mungkin tampak berlimpah hartanya.
Namun jika kekayaan itu tidak digunakan untuk tunduk kepada Allah, maka harta tersebut akan menjadi bumerang dan kehinaan berupa azab yang pedih di hari kiamat.
Sebaliknya, hidayah dan petunjuk Allah adalah hak istimewa yang hanya diberikan kepada hamba-hamba yang dicintai-Nya.
Baca Juga: Hakikat Umur: Antara Kuantitas Usia dan Kualitas Amal
Hakikat Kekayaan: Antara Ketamakan dan Sifat Qana’ah
Banyak manusia terjebak dalam ketamakan yang tidak ada ujungnya. Nabi Muhammad menggambarkan bahwa seandainya manusia memiliki dua lembah emas, mereka pasti akan mencari lembah yang ketiga.
Ketamakan inilah yang sering kali mendorong seseorang, seperti pelaku korupsi, untuk mengambil hak orang lain meskipun secara materi mereka sudah berkecukupan.
Namun, Islam mengajarkan bahwa kekayaan sejati bukanlah pada banyaknya harta, melainkan pada kekayaan jiwa atau sifat qana’ah (merasa cukup dengan pemberian Allah).
Seseorang yang merasa rida dengan apa yang dibagikan Allah kepadanya adalah orang yang paling kaya. Orang yang beriman, baik hidupnya berkecukupan maupun pas-pasan, tetap mulia di sisi Allah selama ia menjaga kedekatannya dengan-Nya.
Mensucikan Harta: Sedekah sebagai Bekal Masa Depan
Harta benda dan keturunan hanyalah perhiasan dunia, sementara amal saleh (albaqiyatus shalihat) adalah apa yang akan menemani manusia di alam kubur.
Baca Juga: Alam Kubur Kita: Menyiapkan Rumah Pertama di Akhirat
Meskipun harta tidak bisa dibawa mati, harta tersebut bisa “dikirim” terlebih dahulu ke akhirat melalui infak dan sedekah.
Kewajiban Zakat: Menunaikan zakat adalah hal wajib untuk mensucikan diri dan harta,. Menahan harta karena kikir dapat mendatangkan azab, di mana harta tersebut akan dipanaskan di neraka dan membakar pemiliknya.
Keberkahan Sedekah: Sedekah ibarat menanam benih yang tumbuh menjadi tujuh tangkai, di mana setiap tangkai menghasilkan seratus biji, dan terus dilipatgandakan oleh Allah.
Kedermawanan dari yang Ada: Kedermawanan tidak diukur dari banyaknya jumlah, melainkan dari kerelaan memberi dari apa yang dimiliki, meskipun hanya berupa pemberian air minum atau sepotong kurma,.
Sebagai penutup, di tengah perjalanan waktu yang terus mendekatkan kita pada pertemuan dengan Allah, sangat penting bagi setiap Muslim untuk melakukan muhasabah (evaluasi diri).
Gunakanlah harta sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah, agar ia menjadi naungan dan pemberat timbangan amal di hari kemudian.




