Home Tazkiyah Di Bawah Pengawasan Allah: Membangun Ihsan Melalui Muraqabah

Di Bawah Pengawasan Allah: Membangun Ihsan Melalui Muraqabah

Langit
Ilustrasi langit dan bulan malam hari/Unplash

Harmantajang.com – Salah satu sifat Allah yang sering terlupakan adalah bahwa Dia maha melihat segala sesuatu, semua di bawah pengawasan Allah untuk membangun ihsan melalui muraqabah. 

Tidak ada satu gerakan pun, satu tatapan, bahkan lintasan niat di hati kita yang luput dari penglihatan-Nya. Allah berfirman::

إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ بَصِيرًا

“Sesungguhnya Allah Maha Melihat segala sesuatu yang kamu kerjakan,” (QS. An-Nisa: 1).

Konsep Muraqabah

Ketika seseorang menyadari bahwa Allah selalu mengawasinya, ia akan malu untuk bermaksiat dan bersemangat untuk berbuat baik meskipun tidak ada yang memuji.

Kesadaran terus-menerus ini disebut oleh para ulama sebagai Muraqabah, yaitu merasa diawasi oleh Allah setiap saat. Ibnul Qayyim rahimahullah mendefinisikan Muraqabah sebagai kesadaran yang terus-menerus bahwa Allah senantiasa melihat lahir dan batin seseorang.

Baca Juga: Menata Niat: Pentingnya Ikhlas dalam Setiap Ketaatan

Jika hati seorang mukmin hidup dengan muraqabah, hidupnya akan berubah: dari yang lalai menjadi berhati-hati, dari yang riya’ menjadi ikhlas, dan dari yang takut manusia menjadi takut kepada Allah. 

Kesadaran ini seperti seorang pegawai yang tahu dirinya sedang diawasi CCTV, ia akan bekerja lebih hati-hati, apalagi jika yang mengawasi adalah Allah yang Maha Tahu isi hati manusia.

Muraqabah sebagai Puncak Iman (Ihsan)

Kesadaran bahwa Allah Maha Melihat adalah puncak keimanan yang disebut Ihsan. Dalam hadits Jibril yang masyhur, Rasulullah bersabda: 

الإِحْسَانُ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ، فَإِنَّهُ يَرَاكَ

“Ihsan itu adalah engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim).

Inilah puncak iman: beramal karena sadar dilihat Allah, tidak butuh penonton, tidak menunggu pujian.Kesadaran ini juga menumbuhkan rasa tenang dan optimis, sebab tidak ada kebaikan yang sia-sia, sekalipun kecil. . 

Namun, kesadaran ini juga harus membuat kita berhati-hati terhadap dosa tersembunyi. Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah mengingatkan: “Jangan lihat kecilnya dosa, tapi lihatlah besarnya Dzat yang engkau durhakai,”. 

Baca Juga: Menanam Jejak Kebaikan: Perjalanan yang Dimulai Setelah Mati

Oleh karena itu, hidup ini bukan tentang bagaimana kita dilihat manusia, tetapi bagaimana kita dilihat oleh Allah.

Tiga Buah Penting dari Kesadaran Allah Maha Melihat

Kesadaran bahwa Allah Maha Melihat harus melahirkan tiga hal penting dalam diri seorang mukmin:

Pertama, Kejujuran dalam amal. Karena Allah melihat niat sebelum perbuatan, seperti sabda Rasulullah:

“Sesungguhnya amal tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapat sesuai niatnya,” (HR. Bukhari dan Muslim). Niat harus dijaga agar amal baik tidak menjadi ringan karena disertai riya’.

Kedua, Takut berbuat dosa meski sendirian. Sebab Allah melihat meskipun manusia tidak. Air mata yang menetes saat berzikir sendirian adalah bukti kesadaran bahwa Allah sedang melihat dan mendengar.

Ketiga, Harapan kepada Allah yang Maha Melihat kebaikan hamba-Nya. Ketika amal tidak dilihat manusia atau ketika lelah dalam ketaatan, seorang mukmin harus ingat bahwa Allah melihat, mencatat, dan menyiapkan balasan terbaik.

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berpesan, “Barang siapa yakin Allah melihatnya, ia akan malu untuk bermaksiat kepada-Nya,”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here