Pentingnya Mencari Keseimbangan Antara Dunia dan Akhirat!

Seimbang
Ilustrasi keseimbangan/Istock

Harmantajang.com – Kenapa dia kaya sedangkan aku miskin?”, penting mencari keseimbangan antara dunia dan akhirat! Serta pentingnya mempersiapkan diri untuk akhirat, serta bahaya menjadi budak harta.

Peringatan Terhadap Perbudakan Dunia

Dalam sebuah hadist, Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

تَعِسَ عَبْدُ الدِّيْنَارِ تَعِسَ عَبْدُ الدِّرْهَمِ، تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيْصَةِ تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيْلَةِ إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ

“Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khamisah dan khamilah (sejenis pakaian yang terbuat dari wool/sutera). Jjika diberi ia senang, tetapi jika tidak diberi ia marah” (HR. Bukhari).

Ini merujuk pada orang yang diperbudak oleh harta dan segala isinya, seperti uang (rupiah, dolar, yen), mode, koleksi barang mewah (sepatu, jam tangan, batu cincin). Orang yang seperti ini mencurahkan seluruh waktu, kebahagiaan, kesedihan, tawa, dan tangisnya untuk dunia.

Sehingga melupakan akhirat dan tidak mempersiapkan bekal untuknya. Nabi SAW mencela orang yang diperbudak dunia, menyebutkan bahwa jika ia mendapatkannya, ia senang, namun jika tidak, ia akan murka dan tidak rida.

Baca Juga: 3 Cara Melawan Penyakit Hasad!

Perlombaan Dunia dan Sifat Munafik

Perlombaan untuk mendapatkan dunia ini adalah sifat orang-orang munafik. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT menyebutkan orang munafik yang mengejek sedekah. Jika seseorang berinfak dengan sedikit harta, mereka mengatakan tidak ada gunanya, tetapi jika dengan banyak harta, mereka menuduh orang tersebut hanya ingin pujian.

Sifat munafik ini juga terlihat ketika mereka gembira jika diberi dan marah jika tidak mendapatkan bagian. Sejarah mencatat bahwa Rasulullah bahkan memberi harta berlimpah kepada kepala suku seperti Al-Aqra’ bin Habis, Uyainah bin Hisn, dan Abu Sufyan untuk melunakkan hati mereka agar masuk Islam atau menghentikan keburukan mereka.

Allah SWT mengingatkan kita untuk berhati-hati terhadap orang-orang semacam ini, dan bahkan menurunkan Surah At-Taubah (juga dikenal sebagai Al-Fadhihah) yang menyingkap aib dan rahasia orang munafik.

Keseimbangan antara Dunia dan Akhirat

Peringatan Rasulullah ini bukan berarti kita harus meninggalkan dunia secara keseluruhan. Allah berfirman:

وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ

Artinya: Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Surat Al-Qashash Ayat 77).

Yang dicela adalah ketika kesibukan terhadap dunia melalaikan kita dari kewajiban kepada Allah, seperti shalat, mengeluarkan zakat, menyantuni fakir miskin, dan membantu orang lain.

Baca Juga: 4 Kunci Kebahagiaan Hakiki

Teladan Para Nabi dalam Mencari Nafkah

Para nabi, termasuk Nabi Muhammad , juga mencari nafkah dan bahkan masuk ke pasar untuk berdagang. Ini membuktikan bahwa mencari rezeki halal adalah sesuatu yang dianjurkan.

Nabi Musa AS memiliki tongkat untuk bertumpu dan memukul dahan demi kambingnya. Nabi Daud AS bahkan disebut sebagai nabi yang makan dari hasil tangannya sendiri, karena beliau adalah seorang pandai besi dan Allah SWT melunakkan besi di tangannya.

Ini menunjukkan bahwa kita diperintahkan untuk bekerja dan berusaha, bukan hanya berdiam diri dan berdoa menunggu rezeki dari langit. Setelah shalat ditunaikan, kita diperintahkan untuk bertebaran di muka bumi dan mencari karunia Allah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here