Peringatan, Islam Mengajarkan Toleransi Bukan Kebablasan!

Bersama
Ilsutrasi kebersamaan/Unplash

Harmantajang.com – Islam adalah agama yang menjunjung tinggi toleransi namun bukan berarti harus kebablasan. Sejak awal, Islam hadir membawa nilai penghormatan terhadap perbedaan, keadilan, dan hidup berdampingan secara damai.

Namun, toleransi dalam Islam bukan berarti menghapus batas, apalagi mengorbankan prinsip keyakinan dalam Islam itu sendiri. 

Landasan Toleransi yang Hakiki (Hubungan Sosial)

Islam tidak bersikap antipati terhadap toleransi; justru Islam adalah agama yang paling jujur dalam mengajarkannya. 

Toleransi yang benar berpijak pada prinsip berbuat baik dan berlaku adil kepada non-muslim selama mereka tidak memerangi atau mengusir umat Islam dari tanah air mereka. 

Allah menyatakan dalam Surah al-Mumtahanah ayat 8:

لَّا يَنْهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ لَمْ يُقَٰتِلُوكُمْ فِى ٱلدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَٰرِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوٓا۟ إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُقْسِطِينَ

Artinya: Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.

Batasan Tegas dalam Wilayah Akidah dan Ibadah

Toleransi menjadi “kebablasan” ketika ia mulai mencairkan tauhid dan mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan. Beberapa poin penting dalam menjaga batasan ini meliputi:

Pertama, Prinsip Pemisahan: Berdasarkan Surah al-Kafirun ayat 6, “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku”, Islam mengakui adanya perbedaan keyakinan tanpa harus ikut serta atau menyetujui keyakinan tersebut.

Baca Juga: Dunia sebagai Ujian, Akhirat sebagai Penentuan!

Kedua, Larangan Penyerupaan (Tasyabbuh): Rasulullah memperingatkan bahwa siapa pun yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka. 

Para ulama menegaskan bahwa meniru syiar agama atau merayakan hari raya agama lain adalah bentuk penyerupaan yang paling berbahaya karena menyentuh loyalitas hati dan iman.

Ketikah, Bukan Sekadar Sopan Santun: Mengucapkan selamat pada hari raya agama lain (seperti Natal) sering dianggap sebagai keramahan sosial, padahal hari raya tersebut adalah syiar agama, bukan tradisi budaya netral. 

Dalam Islam, perayaan tersebut mengandung unsur yang bertentangan dengan tauhid, seperti keyakinan adanya “anak Tuhan” yang secara tegas ditolak dalam Al-Qur’an.

Keseimbangan Antara Ketegasan dan Kelembutan

Ketakwaan yang benar tidak melahirkan sikap ekstrem, melainkan keseimbangan. Umat Islam diminta untuk:

Pertama, Teguh pada Prinsip: Tetap berdiri tegak di atas akidah Tauhid tanpa harus merasa perlu berkompromi hanya demi mendapatkan label “moderat” atau pujian manusia.

Kedua, Tanpa Pemaksaan: Menyadari bahwa perbedaan agama adalah kehendak Allah (sunnatullah), sehingga kebenaran Islam disampaikan tanpa paksaan namun juga tanpa menggadaikan iman.

Baca Juga: Hilangnya Rasa Malu, Awal Rusaknya Akhlak!

Ketiga, Damai dalam Berdampingan: Islam melarang memusuhi manusia secara membabi buta, namun tetap melarang membenarkan kekufuran. Menjaga batasan ini disebut sebagai penjagaan tauhid, bukan ajaran kebencian.

Analoginya, toleransi dalam Islam ibarat pagar sebuah rumah. Kita bisa bertangga dengan sangat baik, saling berbagi makanan, dan menolong tetangga yang kesulitan, namun kita tidak perlu meruntuhkan pagar rumah kita atau membiarkan orang lain mengatur isi dalam rumah kita. 

Pagar tersebut adalah akidah yang menjaga privasi dan jati diri, sementara pintu yang terbuka untuk bantuan adalah muamalah atau hubungan sosial.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here