Harmantajang.com – Dalam sebuah riwayat dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata:
”Saya pernah bertanya sesuatu kepada tuhanku dan saya sebenarnya berharap andaikan saya tidak mempertanyakan itu (seakan Nabi menyesal meminta dan menanyakan itu kepada Allah_Penj), saya berkata:
“Wahai tuhanku engkau telah mengangkat Ibrahim sebagai kekasihmu dan berbicara langsung dari Musa dan engkau memilih Nuh ‘Alaihissalam menjadi bapak dari manusia setelah Adam ‘Alaihissalam, engkau menjadikan Isa mampu menghidupkan orang yang meninggal, apa yang engkau berikan kepadaku ya Allah”.
Allah kemudian berkata kepadanya:”Bukankah aku mendapatkanmu dalam keadaan yatim dan aku kemudian memperhatikanmu atau mengurusmu, saya mendapatimu dalam keadaan tersesat dan memberikan hidayah kepadamu”, Nabi menjawab:”Tentu ya Allah”.
Baca Juga: Surga Sudah Dijamin namun Rasulullah Senantiasa Tetap Beribadah, Dirimu?
Allah berkata:”Saya memberikan kepadamu Muhammad sebuah telaga di dalam surga yang disebut dengan Al Kautsar airnya lebih putih dari susu dan lebih manis dari madu dan lebih dingin dari es dan lebih lembut daripada buih dan jumlah gelasnya wahai Muhammad sebanyak Bintang-bintang yang ada dilangit”.
Ini yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dan kita semua akan diberikan kemuliaan untuk minum ditelaga Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Sebagaimana Rasulullah menyampaikan itu kepada para sahabat, dan siapa yang meminum air telaga dari Nabi maka dia tidak akan merasakan haus selama-lamanya namun ada diantara mereka yang dihalau, ketika dihalau mendekat ditelaga Nabi, Nabi berkata:
Baca Juga: Tahiyat dalam Salat, Pandangan Fokus pada Telunjuk atau Tempat Sujud? (Q & A Part 33)
”Ya Rabb ummat ku, mengapa dihalau”, Allah berkata:”Engkau tidak tahu wahai Muhammad apa yang mereka perbuat setelah engkau meninggal, mereka banyak mengubah syariatmu, semua perkara-perkara baru dalam urusan agamamu”.
Inilah bahaya dari bid’ah akan dihalau dari meminum telaga Nabi, Nabi berkata:”Sungguh celaka demikian orang yang mengubah syariatku setelah kematian ku”.




