Harmantajang.com – Peringatan tentang hamba yang celaka telah banyak disinggung dan dibahas dalam Al-Qur’an. Untuk itu mari menjaga diri dari segala kemaksiatan.
Tabiat dan Sifat Orang Munafik
Sebagian orang memiliki sifat jika diberi dia senang dan jika tidak diberi dia marah atau murka sebagaimana yang Allah gambarkan dalam surah Al Ahzab, Allah berfirman:
أَشِحَّةً عَلَيْكُمْ ۖ فَإِذَا جَاءَ الْخَوْفُ رَأَيْتَهُمْ يَنْظُرُونَ إِلَيْكَ تَدُورُ أَعْيُنُهُمْ كَالَّذِي يُغْشَىٰ عَلَيْهِ مِنَ الْمَوْتِ ۖ فَإِذَا ذَهَبَ الْخَوْفُ سَلَقُوكُمْ بِأَلْسِنَةٍ حِدَادٍ أَشِحَّةً عَلَى الْخَيْرِ ۚ أُولَٰئِكَ لَمْ يُؤْمِنُوا فَأَحْبَطَ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ ۚ وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا
“Mereka bakhil terhadapmu, apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapuskan (pahala) amalnya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah”. (QS. Al-Ahzab: 19).
Jadi, orang munafik demikian jika orang muslim menang seakan-akan mereka yang paling berjasa dan ketika orang muslim kalah maka nampak kebobrokan dan aib mereka dan ini ada disetiap zaman.
Olehnya Allah Subhanahu wata’ala mengabarkan di dalam Al-Qur’an untuk berhati-hati dari orang yang seperti itu bahkan Allah menurunkan satu surah yang disebut surah taubah.
Baca Juga: Petunjuk bagi Orang-orang yang Dikehendaki-Nya
Nama lain dari surah taubah adalah surah Al Fadikhah (yang menyingkap aib, cela serta cacat orang-orang munafik serta rahasia-rahasia mereka), ini merupakan peringatan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tentunya bukan berarti kita meninggalkan dunia secara keseluruhan.
Mencari Dunia tapi Jangan Melalaikan Akhirat
Allah sendiri berfirman didalam Al-Qur’an:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan“. (QS. Qasas: 77).
Tapi yang tercela adalah ketika kesibukan kita terhadap dunia itu melalaikan dari kewajiban kita, melalaikan dari ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala, melalaikan kita untuk mengeluarkan yang wajib seperti zakat yang harus dikeluarkan kemudian menyantuni fakir miskin, membantu orang lain.
Namun selama kita mencari nafkah dan mencari dunia maka ini tidak mengapa selama tidak melalaikan dari kewajiban sebagaimana Nabi-Nabi Allah Subhanahu wata’ala pun juga demikian mereka mencari nafkah bahkan mereka ke pasar.
Para Rasul Allah Sejatinya Pekerja ‘Keras’
Allah menyebutkan didalam Al-Qur’an:
وَقَالُوا مَالِ هَٰذَا الرَّسُولِ يَأْكُلُ الطَّعَامَ وَيَمْشِي فِي الْأَسْوَاقِ ۙ لَوْلَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَلَكٌ فَيَكُونَ مَعَهُ نَذِيرًا
“Dan mereka berkata: “Mengapa rasul itu memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat agar malaikat itu memberikan peringatan bersama-sama dengan dia?”. (QS. Al-Furqan: 7).
Baca Juga: Sering Gelisah, Bagaimana Cara agar Khusyuk dalam Salat? (Q & A Part 45)
Sebagaimana profesi Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam begitupula Nabi-Nabi yang lain, tidaklah ada Nabi yang diutus kata Rasulullah melainkan mereka itu sebagai seorang penggembala seperti Nabi Musa ‘Alaihissalam.
Ketika Allah Subhanahu wata’ala bertanya kepada Musa:
وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَىٰ , قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَىٰ غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَىٰ
“Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa?, Berkata Musa: “Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya“. (QS. Thaha: 17-18).
Begitupula Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bergembala kambing, sebagian ulama ada yang menyebutkan hikmahnya bahwasanya para Nabi telah dilatih untuk menghadapi ummatnya.
Kambing jika ditarik ke kanan maka dia akan lari ke kiri dan ummat para Nabi demikian ketika mereka dipanggil ke kanan mereka lari ke kiri, para Nabi-Nabi Allah sampai yang diberikan kelapangan kepada mereka bahkan kekuasaan dan kekuatan seperti Nabi Daud ‘Alaihissalam.




