Home Adab & Akhlak Prioritaskan Akhlak Baik atau Berhijab Dahulu?, Jangan Sampai Keliru!

Prioritaskan Akhlak Baik atau Berhijab Dahulu?, Jangan Sampai Keliru!

Cahaya
Ilustrasi cahaya Islam/Istock

Harmantajang.com – Seringkali muncul perdebatan di kalangan masyarakat, khususnya Muslimah, mengenai urutan prioritas antara memperbaiki akhlak atau mengenakan hijab. Beberapa wanita mungkin berargumen:

“Saya belum mau berhijab, saya mau memperbaiki akhlak saya dulu,” atau bahkan mengatakan bahwa akhlak orang yang tidak berhijab lebih baik daripada yang berhijab. Pandangan ini, meskipun terdengar indah, seringkali menjadi syubhat (keraguan) yang perlu diluruskan.

Menepis Keraguan: Hijab dan Akhlak adalah Dua Hal yang Berbeda Namun Saling Melengkapi

Argumen tersebut adalah kekeliruan dalam memahami agama. Ia menggunakan analogi yang mudah dicerna:

Ujian dan Belajar: Apakah kelulusan seseorang yang tidak belajar dijadikan alasan untuk tidak belajar? Atau kegagalan seseorang yang rajin belajar dijadikan alasan untuk tidak belajar? Tentu tidak. 

Baca Juga: Pentingnya Menjaga Salat: Pilar Utama dan Pembeda dalam Islam

Persentase mereka yang lulus tanpa belajar atau tidak lulus meski rajin belajar sangatlah sedikit, namun sedikitnya data ini sering digembor-gemborkan seolah menjadi kebenaran umum.

Muslim Pemabuk vs Kafir Tidak Memabukkan: Apakah keberadaan seorang Muslim yang minum minuman keras sementara ada orang kafir yang tidak meminumnya lantas menjadi dalil bahwa orang kafir lebih baik dari orang Islam? Sama sekali tidak. 

Ini adalah contoh bagaimana data yang sedikit bisa dimainkan untuk memutarbalikkan fakta.

Meluruskan Pemahaman “Yang Penting Hatinya Baik”

Argumen lain yang sering muncul adalah, “Yang penting hatinya baik, biar tidak berhijab”. Jika hati seseorang benar-benar baik, ia pasti akan berhijab. Mengapa demikian? Karena Allah berfirman dalam Al-Qur’an, dan Al-Qur’an memerintahkan wanita untuk berhijab.

Penolakan terhadap kebenaran, termasuk perintah berhijab, dapat menjadi tanda kesombongan (Al-Kibru). Kesombongan didefinisikan sebagai “menolak kebenaran dan meremehkan manusia”. 

Jika seseorang mengatakan “saya tidak usah berjilbab/berhijab yang penting hati saya bagus,” itu menunjukkan adanya masalah dalam hubungannya dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena ia tidak tunduk pada perintah-Nya.

Menyempurnakan Cahaya Kebaikan dengan Ketaatan Sempurna

Baca Juga: Memahami Takdir: Kunci Keimanan dan Ketenangan Hidup

Meskipun diakui bahwa ada wanita yang tidak berhijab namun memiliki akhlak mulia, seperti senang membantu orang lain, berkata jujur, dan tidak berdusta, hal itu sudah bagus. Namun, kebaikan tersebut perlu disempurnakan.

Al-Qur’an memerintahkan orang-orang beriman untuk masuk ke dalam agama Allah Subhanahu wa Ta’ala secara sempurna. Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam agama Allah Subhanahu wa Ta’ala secara sempurna”.

Oleh karena itu, kebaikan akhlak adalah wajib, dan ketaatan terhadap syariat Allah, termasuk perintah berhijab, juga wajib. Keduanya tidak saling meniadakan, melainkan saling melengkapi untuk membentuk pribadi Muslimah yang sempurna di mata Allah Subhanahu wa Ta’ala.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here