Ridha Allah: Kunci Kebahagiaan yang Hakiki

Senja
Suasana senja dan sore/Istock

Harmantajang.com – Semua manusia mengimpikan dan menginginkan kebahagiaan, ridha Allah adalah kunci kebahagiaan yang hakiki. Namun, banyak yang gagal meraihnya karena salah mendefinisikan apa itu “kebahagiaan” yang sebenarnya. 

Definisi Kebahagiaan Sejati

Allah, melalui Rasul-Nya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengajarkan definisi “kebahagiaan sejati”. 

Manusia ciptaan Allah tidak akan pernah merasakan kebahagiaan sejati kecuali ketika jalan hidupnya adalah jalan penghambaan dan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Rasa bahagia yang sesungguhnya hanya akan dicicipi jika hidup dijalani sepenuhnya sebagai jalan penghambaan yang berujung pada kebahagiaan abadi di Akhirat. Dunia ini hanyalah tempat singgah dan melintas, posisinya adalah tempat menyiapkan bekal pulang ke negeri Akhirat.

Profil Hamba Sejati dan Keseimbangan Dunia

Hamba Allah yang sejati, yang pasti akan meraih kebahagiaan sejati, digambarkan dalam Surah an-Nur ayat 37:

رِجَالٌ لَّا تُلْهِيهِمْ تِجَٰرَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَن ذِكْرِ ٱللَّهِ وَإِقَامِ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءِ ٱلزَّكَوٰةِ ۙ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ ٱلْقُلُوبُ وَٱلْأَبْصَٰرُ

Artinya: Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.

Ayat ini menunjukkan bahwa hamba sejati tidak sepenuhnya larut dalam ibadah hingga mengabaikan kehidupan dunia. Mereka tetap terlibat mengurus dunia, tetap berbisnis, bertransaksi jual-beli, bekerja, dan belajar.

Baca Juga: Setiap Amal Dicatat: Kecil Bukan Berarti Sepele

Yang menjadikan mereka istimewa adalah bahwa semua kesibukan dunia bisnis, transaksi, dan pekerjaan tidak pernah membuat mereka lalai dan lupa mengingat Allah Ta’ala. Praktik ketaatan mereka meliputi:

Pertama, segera memenuhi panggilan shalat saat adzan berkumandang. Kedua, segera mengeluarkan zakat ketika hartanya mencapai nishab dan haul.

Ketiga, menunaikan pekerjaan di kantor dengan penuh amanah, tanpa terpikir untuk korupsi atau mengambil uang negara. Keempat, memastikan bisnis mereka halal, tidak menzalimi orang lain, atau dijalankan dengan cara yang curang.

Alasan di balik ketaatan dan integritas ini adalah kesadaran mereka bahwa dunia ini hanya sementara, kematian bisa datang kapan saja, dan akan tiba masanya mereka harus berdiri di Padang Mahsyar untuk mempertanggungjawabkan segalanya. 

Dunia Adalah Tempat Ujian

Untuk menemukan kebahagiaan sejati, umat Muslim harus mengubah paradigma tentang dunia ini.

 Dunia bukanlah tempat kebahagiaan sejati, melainkan tempat singgah untuk melewati ujian demi ujian untuk membuktikan kelayakan mendapatkan bahagia sejati di Akhirat. Semua yang dialami di dunia adalah ujian, tanpa kecuali:

Pertama, kondisi kaya dan miskin adalah ujian. Kedua, mendapatkan jabatan dan tidak punya jabatan adalah ujian.Sukses dan gagal adalah ujian.Ketiga, menikah dan tidak menikah adalah ujian.

Dalam Al-Qur’an Surat Al-Mulk Ayat 2 berfirman:

ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفُورُ

Artinya: Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.

Baca Juga: Islam: Agama Jalan Pertengahan dan Keseimbangan!

Resep Kebahagiaan Sejati: Menceraikan Dunia dari Jiwa

Salah satu rahasia kebahagiaan sejati adalah: Jangan pernah mengikat hati dan memperbudak dirimu pada dunia ini!.

Sejarah menunjukkan bahwa mereka yang diperbudak oleh kekayaan, kekuasaan, kecantikan, dan gemerlap dunia, hidup dalam jiwa yang sengsara dan kosong dari kebahagiaan, meskipun secara kasat mata mereka tampak mewah.

Manusia yang sejati bahagianya adalah manusia yang “menceraikan dunia dari jiwanya,” meletakkan dunia di tangannya, tetapi tidak pernah membiarkannya menguasai hatinya. Rasulullah mengajarkan bahwa dunia ini jauh lebih hina di sisi Allah daripada bangkai seekor kambing yang sudah dibuang oleh pemiliknya.

Oleh karena itu, resep kebahagiaan sejati ala Rasulullah SAW adalah jangan berikan tempat terhormat untuk dunia di hati. Jangan terpukau dengan flexing atau senyum dan tawa palsu di media sosial. 

Jika ingin mencicipi kebahagiaan sejati, kembalilah kepada Allah dan perbaiki kualitas hubungan kita dengan-Nya, niscaya akan dicicipi manisnya rasa bahagia yang tak terlukiskan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here