Sebaik-baik Sedekah Ialah yang Diberikan ketika Masih Sehat dan Berat untuk Mengeluarkannya

Ilustrasi Zakat/Unplash

Harmantajang.com – Dalam hadist Abu Hurairah meriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki yang datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya:”Wahai Rasulullah, sedekah apa yang paling utama?”, Beliau menjawab:

« أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ ، تَخْشَى الْفَقْرَ وَتَأْمُلُ الْغِنَى ، وَلاَ تُمْهِلُ حَتَّى إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ قُلْتَ : لِفُلاَنٍ كَذَا ، وَلِفُلاَنٍ كَذَا ، وَقَدْ كَانَ لِفُلاَنٍ » .

“Engkau bersedekah dalam kondisi sehat dan berat mengeluarkannya, dalam kondisi kamu khawatir miskin dan mengharap kaya. Maka janganlah kamu tunda, sehingga ruh sampai di tenggorokan, ketika itu kamu mengatakan:”Untuk fulan sekian, untuk fulan sekian, dan untuk fulan sekian”. Padahal telah menjadi milik si fulan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Pandangan orang yang sakit dengan orang yang sehat berbeda, orang yang masih sehat banyak yang bisa ia kerjakan, banyak bisnis yang ia mau jalankan, dia masih memikirkan pengembangan usahanya dimana-mana.

Adapun orang yang sakit ketika diatas pembaringannya ia melihat orang yang lalu lalang diluar seakan-akan tidak ada nilainya sama sekali dan pada kondisi demikian dia baru mau bersedekah, dia baru mau berinfaq.

Baca Juga: Hadirmu di Dunia Bukan Kebetulan, maka Berikanlah yang Terbaik

Oleh karenanya, sedekah yang paling afdhal adalah ketika masih sehat dan lagi berat untuk mengeluarkannya. Perencanaan itu bagus, seperti membangunkan bisnis untuk anak kita kemudian kita berkata:

Nak jika saya mati nanti engkau mengelola bisnis ini”, Amr bin Ash Radhiyallahu anhu seorang sahabat yang kaya raya ketika beliau sakit keras dia berkata kepada Rasulullah:”Ya Rasulullah, saya mau sedekahkan semua harta saya”.

Rasulullah berkata:”Jangan”, ia berkata:”Jika begitu seperduanya Ya Rasulullah”, beliau berkata:”Jangan”, ia berkata lagi:”Jika seperti itu sepertiganya Ya Rasulullah”, beliau berkata:”Ya, boleh sepertiganya itupun masih banyak, engkau meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya itu lebih baik dari pada engkau meninggalkan mereka dalam keadaan miskin atau meminta-minta kepada orang”.

Jangan hanya harta dan bisnis yang difikirkan kemudian anak kita tidak di didik dengan baik karena anak yang buruk ketika ditinggalkan harta kepada mereka maka itu bisa menjadi sebab pertikaian,

Umar bin Abdul Azis salah seorang khalifah ketika beliau meninggal tidak ada yang bisa ia wariskan kepada anak-anaknya karena beliau sebelum menjadi khalifah adalah orang yang kaya raya tapi ketika menjadi khalifah ia menjadi miskin bahkan harta yang dimiliki oleh istrinya fathimah ia suruh kembalikan ke baitul mal muslimin.

Baca Juga: Jadikan Doa sebagai Penangkal Sifat Syirik dan Riya

Ketika ia menjabat sebagai khalifah ia berkata kepada istrinya:”Jika engkau tidak kembalikan ke baitul mal muslimin kita cerai atau berpisah“, beliau lakukan ini karena sangat takut kepada Allah.

Ketika beliau meninggal tidak ada yang beliau tinggalkan untuk anak anaknya ketika ditanya mengapa engkau tidak siapkan, ia menjawab:

”Jika anak-anak saya sholeh maka dengan kesholehan itu membuat ia bisa qana’ah (merasa cukup dengan apa yang Allah berikan kepada mereka) dan jika mereka tidak sholeh saya tidak membantu mereka dalam kemaksiatan, jangan sampai saya meninggal harta dan mereka tidak sholeh justru dia menggunakan harta tersebut untuk bermaksiat kepada Allah maka saya yang akan mendapatkan dosanya”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here