Harmantajang.com – Siapakah Orang yang Paling Kuat dan sejati dalam pandangan Islam?, ternyata bukan tentang kekuatan fisik, melainkan kekuatan dalam mengendalikan diri.
1. Definisi Orang Kuat Menurut Islam
Rasulullah pernah bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم، قال: “لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرُعة، وَلَكِنَّ الشَّدِيدَ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ”.
Artinya: “Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi Saw. yang telah bersabda: Orang yang kuat itu bukanlah karena jago gulat, tetapi orang kuat ialah orang yang dapat menahan dirinya di kala sedang marah.” (HR Bukhari dan Muslim).
Hadits ini menegaskan bahwa kekuatan sejati terletak pada kemampuan seseorang untuk mengendalikan emosi dan amarahnya. Kemampuan ini merupakan bagian dari akhlak mulia yang menjadi salah satu tujuan utama diutusnya Nabi Muhammad, yaitu untuk menyempurnakan akhlak.
2. Bahaya Amarah yang Tidak Terkendali
Baca Juga: Saat Dosa Menggunung, Rahmat Allah Lebih Luas!
Amarah yang tidak terkendali adalah pintu menuju berbagai keburukan. Para ulama bahkan mengatakan bahwa ketika seseorang marah, setan akan mempermainkannya layaknya anak kecil yang mempermainkan bola.
Banyak kejadian negatif yang berawal dari ketidakmampuan mengendalikan emosi, di antaranya:
Pertama Perkelahian dan tawuran, yang sering kali dipicu oleh hal-hal sepele, seperti saling pandang. Kedua, Perceraian dalam rumah tangga, yang sering terjadi karena suami atau istri tidak mampu menahan emosi saat menghadapi masalah.
3. Dua Jenis Akhlak Manusia
Secara umum, akhlak atau tabiat manusia terbagi menjadi dua jenis:
Pertama Akhlak Jibillah (Bawaan Sejak Lahir), beberapa orang memang secara alami dianugerahi sifat sabar, santun, dan sulit untuk marah. Ini adalah karunia dari Allah yang patut disyukuri.
Kedua, Akhlak Muktasabah (Diusahakan Melalui Latihan) Sebagian orang mungkin memiliki tabiat yang cepat terpancing emosi atau mudah marah. Namun, Islam mengajarkan bahwa sifat buruk ini tidak boleh dibiarkan begitu saja dengan pasrah pada takdir. Sifat-sifat baik seperti kesabaran dan kelembutan bisa diusahakan dan dilatih.
4. Cara Melatih Diri Mengendalikan Amarah
Baca Juga: Surah Ad-Dhuha: Jawaban Cinta Allah atas Keresahan Rasulullah
Bagi mereka yang merasa cepat emosi, ada beberapa langkah yang diajarkan dalam syariat untuk memperbaikinya:
Pertama Menyadari Kondisi Diri: Langkah pertama untuk mengobati sebuah penyakit adalah dengan mengetahui bahwa diri kita sakit. Mengakui bahwa diri kita mudah emosi adalah awal dari perbaikan.
Kedua, Mempelajari Keutamaannya: Mengetahui pahala dan keutamaan besar bagi orang yang mampu menahan amarah akan menjadi motivasi kuat untuk berusaha meraihnya.
Ketiga. Melatih Diri Secara Berkelanjutan: Nabi mengatakan bahwa kesabaran didapatkan dengan melatih diri untuk bersabar dan kelembutan didapatkan dengan melatih diri untuk bersikap santun.
Latihan ini sangat dibutuhkan, misalnya saat menghadapi anak-anak di rumah atau para santri di pondok. Keempat, berdoa: Nabi mengajarkan kita untuk berdoa kepada Allah agar dianugerahi akhlak yang mulia.




