Surah Ad-Dhuha: Jawaban Cinta Allah atas Keresahan Rasulullah

Al-Qur'an
Ilustrasi sebuah kitab A-Qur'an/Unplash

Harmantajang.com – Surah Ad-Dhuha merupakan jawaban cinta Allah atas keresahan Rasulullah dan surat ke-93 dalam Al-Qur’an, merupakan surat yang penuh dengan penegasan cinta dan pembelaan Allah kepada Nabi Muhammad dan terdiri dari 11 ayat, 50 kata, dan 172 huruf. 

Surat ini diturunkan sebagai jawaban langsung atas kesedihan dan keresahan yang dialami Rasulullah ketika wahyu sempat terputus untuk sementara waktu.Surat ini tidak hanya mengungkapkan latar belakang historisnya, tetapi juga pesan harapan yang abadi bagi seluruh umat Islam.

Sebab Turunnya Wahyu: Ejekan yang Menjadi Pembelaan

Latar belakang turunnya Surah Ad-Dhuha sangat menyentuh dan menunjukkan betapa Allah menjaga kekasih-Nya. Diriwayatkan dalam hadis yang disepakati oleh Imam Bukhari dan Muslim (muttafaqun ‘alaih), wahyu kepada Nabi Muhammad SAW sempat terhenti selama beberapa waktu. 

Situasi ini dimanfaatkan oleh seorang wanita kafir Quraisy beberapa riwayat menyebutkan ia adalah Ummu Jamil, istri Abu Lahab untuk mengejek Rasulullah. Ia berkata, “Saya melihat bahwa temanmu (setanmu) telah meninggalkanmu,” merujuk pada Malaikat Jibril yang biasa membawa wahyu.

Ejekan ini membuat Nabi Muhammad  merasa khawatir dan sedih, bertanya-tanya mengapa Jibril tidak kunjung datang. Maka, Allah SWT menurunkan Surah Ad-Dhuha sebagai bantahan telak dan pembelaan langsung kepada Nabi-Nya.

Ini adalah pola yang konsisten, di mana Allah sendiri yang membalas setiap ejekan yang ditujukan kepada Rasulullah, seperti saat Allah menurunkan Surah Al-Lahab untuk membalas Abu Lahab.

Baca Juga: Manipulasi Setan: Pelajaran dari Ahli Ibadah yang Tergelincir

Sumpah Allah dan Penegasan Kasih Sayang-Nya

Surat ini dibuka dengan sumpah Allah ‘demi waktu dhuha dan demi malam’, setelah bersumpah, Allah langsung menjawab keresahan Nabi dengan firman-Nya, dalam Surat Ad-Dhuha Ayat 3:

مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ

Artinya: Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu.

Ayat ini adalah inti dari surat tersebut, sebuah penegasan yang menghapus segala keraguan dan kesedihan di hati Rasulullah. Allah menegaskan bahwa Dia tidak pernah meninggalkan atau marah kepada Nabi-Nya. 

Sebaliknya, ayat ini menunjukkan betapa besar cinta Allah kepada Rasulullah, di mana Allah selalu menuruti dan mengabulkan apa pun yang diinginkan oleh Nabi-Nya.

Janji Agung: Akhirat yang Lebih Baik dan Keridhaan yang Abadi

Baca Juga: Nikmat sebagai Ujian dan Mengingat Kematian sebagai Tujuan

Setelah menenangkan hati Nabi, Allah memberikan janji yang lebih agung.Meskipun semua keinginan Nabi di dunia dikabulkan, kenikmatan di akhirat tidak ada bandingannya. Pilihan hidup Rasulullah yang zuhud, seperti tidur di atas tikar kasar dari pelepah kurma, adalah cerminan dari keyakinan ini.

Kemudian, Allah memberikan janji puncaknya dalam Surat Ad-Dhuha Ayat 4:

وَلَلْءَاخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ ٱلْأُولَىٰ

Artinya: Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan).

Para ulama menafsirkan bahwa “keridhaan” Nabi Muhammad SAW ini sangat berkaitan dengan nasib umatnya. Diceritakan dalam sebuah riwayat, Nabi pernah menangis semalaman karena mengkhawatirkan umatnya. 

Allah kemudian mengutus Jibril untuk bertanya penyebab tangisannya, lalu Allah berjanji, “Sungguh Kami akan memberikan kepadamu apa yang kau mau untuk umatmu, wahai Muhammad, dan Kami tidak akan menyia-nyiakan harapanmu”. 

Ayat ini menjadi salah satu ayat yang paling membahagiakan dan penuh harapan bagi umat Islam, karena di dalamnya terkandung janji syafaat terbesar dari Rasulullah di hari kiamat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here