Haramantajang.com – Dalam ajaran Islam, surga adalah puncak dari segala kenikmatan dan balasan terbaik bagi hamba-hamba Allah yang bertakwa. Olehnya, surga dan Kenikmatan Abadi di dalamnya.
Setiap jiwa tidak mengetahui apa yang telah disiapkan dan disembunyikan oleh Allah SWT untuk mereka, yang akan menyukakan pandangan mata mereka. Nabi Muhammad SAW bahkan memerintahkan umatnya untuk memohon surga yang paling tinggi, yaitu Surga Firdaus.
Luasnya Surga dan Tingkatan Kenikmatan
Surga memiliki luas yang tak terhingga, digambarkan seluas langit dan bumi. Kenikmatan di dalamnya tak terbayangkan oleh akal manusia; “belum pernah didengar oleh telinga dan belum pernah dilihat oleh mata dan belum pernah terdetik di dalam hati manusia”.
Penghuni surga memiliki tingkatan (derajat) yang berbeda-beda, seperti halnya penghuni neraka. Jarak antara satu tingkatan dengan tingkatan lainnya bisa sejauh antara langit dan bumi.
Baca Juga: Jenis, Perbedaan dan Konsekuensi dari Sifat Syirik
Perjalanan Menuju Surga dan Pembersihan Dosa
Tidak semua orang akan langsung masuk surga. Ada yang akan berjalan seperti kilat, ada yang berkendara, berlari kecil, bahkan ada yang berjalan tertatih-tatih.
Setelah melewati shirath (jembatan), para penghuni surga akan terkurung di sebuah jembatan antara surga dan neraka untuk dibersihkan dari kezaliman yang pernah mereka lakukan di dunia. Setelah itu, barulah mereka diizinkan masuk surga.
Ada golongan yang masuk surga bersama orang-orang yang pertama kali (ma’a al-awwalin) bersama Rasulullah SAW. Namun, ada juga yang masuk setelahnya, bahkan ada yang dicuci terlebih dahulu di neraka karena dosa-dosa besar mereka.
Kemudian diangkat dan dimasukkan ke surga, ini adalah akidah Ahlussunnah Wal Jama’ah terhadap pelaku dosa besar.
Ciri-ciri Penghuni Surga
Ada golongan penghuni surga yang istimewa, yaitu Surga yang datang menjemputnya, sehingga ia tidak perlu bersusah payah berjalan atau digiring. Golongan ini memiliki ciri-ciri:
Baca Juga: Prioritaskan Akhlak Baik atau Berhijab Dahulu?, Jangan Sampai Keliru!
Awwabin”: Orang yang senantiasa kembali kepada Allah. Ketika terjatuh dalam perbuatan dosa, ia segera kembali kepada Allah dan bertaubat. Ini menunjukkan bahwa syarat bertakwa bukan berarti tidak pernah berdosa, melainkan segera kembali kepada Allah setelah berbuat dosa.
Bahkan, orang berdosa bisa masuk surga jika ia bertaubat dengan taubat nasuha, dan sebaliknya, orang beramal saleh bisa masuk neraka jika amalannya bercampur dengan riya atau kesyirikan.
“Takut kepada Tuhannya bila ghaib”: Orang yang takut kepada Allah saat bersendirian. Kesalehan sejati terlihat saat tidak ada orang lain yang melihat. Seseorang yang hanya terlihat saleh di hadapan manusia tetapi melanggar batasan Allah saat sendiri akan mendapati amalannya sia-sia.
Malu kepada anak kecil saat ingin membuka situs terlarang, tetapi tidak malu kepada Allah, menunjukkan kurangnya rasa takut kepada Allah saat bersendirian. Semoga kita semua termasuk di antara penghuni surga dan Allah membersihkan dosa-dosa kita.




