Home Adab & Akhlak Surga Sudah Dijamin namun Rasulullah Senantiasa Tetap Beribadah, Dirimu?

Surga Sudah Dijamin namun Rasulullah Senantiasa Tetap Beribadah, Dirimu?

Ilustrasi seorang Muslim sedang sujud/Istock

Harmantajang.com – Suatu ketika, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam wata’ala  pernah duduk di majelis dihadapan para pembesar Quraisy beliau semangat untuk menyampaikan hidayah kepada mereka.

Karena beliau berijtihad jika semua ini masuk islam maka semua kaumnya atau sukunya akan ikut. Tiba-tiba masuk salah seorang lelaki buta yang bernama Abdullah ibn Ummi Maktum yang tidak bisa melihat dengan jelas.

Dia ingin berjumpa dengan Nabi untuk bertanya dan beliau tidak tahu siapa yang hadir ditempat itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berpaling dari Abdullah ibn Ummi Maktum.

Baca Juga: Bukankah Kami telah Melapangkan dadamu? (Tafsir QS. Al-Insyirah: 1)

Lelaki itu hendak ingin bertanya kepada Nabi tetapi seakan-akan Nabi mengatakan:”Sebentar, ini dulu yang dihadapi’, karena beliau tidak tahu jika ada tamu Rasulullah yang lain maka turunlah teguran dari Allah:

عَبَسَ وَتَوَلَّىٰ , أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىٰ ,وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىٰ

“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, Karena telah datang seorang buta kepadanya”. (QS. Abasa: 1-2).

Setelah kejadian itu setiap kali Nabi berada dimajelis kemudian datang Abdullah ibn Ummi Maktum dimajelisnya maka beliau langsung berdiri menyambutnya kemudian menyuruhnya duduk dan berkata:

”Selamat datang kepada orang yang sebab dia saya ditegur oleh Allah Subhanahu wata’ala”.  

Tapi apakah dengan jaminan ampunan dosa itu Nabi kemudian berleha-leha dan duduk sambil berpangku tangan dirumahnya dan tidak lagi beribadah karena sudah dijamin masuk surga.

Baca Juga: Membaca Surah yang Sama dalam Salat, Apa Hukumnya?

Beliau tidak begitu, justru beliau semakin giat dalam beribadah sampai kaki beliau bengkak karena panjangnya beliau qiyam diwaktu malam, istrinya bertanya:

“Ya Rasulullah anda telah mendapatkan ampunan dosa-dosa yang lalu dan yang akan datang mengapa anda sampai seperti ini”. Nabi berkata: “Tidak pantaskah saya menjadi hamba yang pandai bersyukur“, itulah suri tauladan dari Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam.

Dari uraian diatas, hikmah yang dapat dipetik ialah tidak ada alas an bagi seorang hamba untuk tidak meningkatkan ketakwaan dan ibadahnya. Sebab, Rasulullah saja yang jaminannya adalah surga tidak pernah berhela-hela namun selalu berbuat kebaikan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here