Harmantajang.com – Kita diingatkan untuk senantiasa memanjatkan rasa syukur kehadirat Allah, syukur: amalan ringan, tetapi sering dilalaikan serta yang tak henti-hentinya mencurahkan begitu banyak nikmat kepada kita.
Hakikat Nikmat dan Kewajiban Bersyukur
Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menundukkan segala yang ada di langit dan di bumi untuk kita nikmati, dan mencurahkan berbagai macam nikmat, baik yang lahir maupun yang batin, yang nampak dan yang tersembunyi, yang tidak bisa kita hitung.
Sebagaimana firman Allah, Surat An-Nahl Ayat 53:
وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ ٱللَّهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ ٱلضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْـَٔرُونَ
Artinya: Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.
Tugas kita sebagai hamba Allah adalah pandai mensyukuri nikmat tersebut. Dengan kesyukuran, Allah akan menjaga nikmat yang diberikan, bahkan menambah, memberkahi, dan melipatgandakannya.
Baca Juga: Sungai Kebaikan yang Menghapus Dosa, Apa Saja?
Konsekuensi Kufur Nikmat
Sebaliknya, ketika kita kufur atau tidak pandai bersyukur atas nikmat Allah, nikmat itu bisa dicabut, bahkan menjadi sebab Allah menurunkan malapetaka, bencana, musibah, dan azab.
Allah memberikan permisalan sebuah negeri yang dulunya aman dan tentram, berlimpah rezeki dari berbagai penjuru, namun penduduknya kufur nikmat dan membalasnya dengan kemaksiatan.
Akibatnya, mereka ditimpa kelaparan dan rasa takut yang menyelimuti mereka disebabkan ulah tangan mereka sendiri.
Oleh karena itu, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam mengajarkan doa untuk berlindung dari nikmat yang dicabut, keselamatan dan kesehatan yang diangkat, serta musibah yang datangnya tiba-tiba.
Tiga Cara Mensyukuri Nikmat Allah
Mensyukuri nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala dapat diwujudkan dengan tiga hal:
Pertama, dengan lisan kita: Senantiasa memuji Allah, terutama saat mendapatkan nikmat, dengan mengucapkan “Alhamdulillah”. Para ulama bahkan menyatakan bahwa ucapan Alhamdulillah lebih baik daripada materi nikmat yang didapatkan, karena materi akan habis sementara pahala ucapan Alhamdulillah tercatat dan akan didapatkan di hari kemudian.
Kedua, dengan hati kita: Mengakui bahwa semua nikmat yang kita rasakan datangnya dari Allah, bukan disebabkan kecerdasan, kepiawaian, atau kekuatan kita. Allah-lah yang menjamin dan membagi-bagikan rezeki kepada hamba-hamba-Nya.
Banyak sedikitnya rezeki atau harta bukanlah jaminan kemuliaan di sisi Allah. Nabi Sulaiman, meskipun diberikan kekuasaan yang luar biasa, tidak lupa diri, melainkan senantiasa bersyukur dan berdoa memohon petunjuk untuk bersyukur.
Ketiga, dengan anggota tubuh kita: Dengan memperbanyak amal saleh dan semakin mendekatkan diri kepada Allah. Ini berarti tidak tertipu dengan harta, pangkat, dan jabatan dunia.
Pandangan Islam tentang Dunia dan Kekayaan
Baca Juga: Ketenangan Hati: Anugerah Istimewa yang Sering Terlupakan
Dunia ini di sisi Allah tidak bernilai sedikit pun, bahkan seperti sehelai sayap nyamuk. Jika dunia memiliki nilai seperti itu, niscaya orang kafir pun tidak akan diberi minum walaupun seteguk air.
Oleh karena itu, jangan heran jika orang kafir dibukakan pintu dunia dan menjadi kaya, karena itu bukan ukuran kemuliaan di sisi Allah. Islam tidak melarang untuk menjadi kaya raya, bahkan banyak contoh orang saleh yang kaya raya seperti para nabi dan sahabat.
Namun, jadikan dunia itu jembatan untuk akhirat, jangan sampai dunia memperbudak kita. Harta yang baik di tangan orang yang baik akan diinfakkan di jalan Allah, seperti menyantuni fakir miskin, membantu pondok penghafal Al-Quran, dan memakmurkan masjid. Harta tidak dibawa mati, tetapi bisa dikirim dari sekarang.
Teladan Bersyukur dan Keseimbangan Hidup
Nabi Nuh dan Nabi Ibrahim dipuji oleh Allah sebagai hamba yang pandai bersyukur. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bahkan melakukan salat Tahajud dan Qiyamul Lail hingga kaki beliau pecah-pecah.
Ketika Aisyah bertanya mengapa beliau melakukannya padahal dosa-dosanya telah diampuni, Rasulullah menjawab, “Tidakkah pantas wahai Aisyah saya menjadi hamba yang pandai bersyukur kepada Allah?”.
Hidup di dunia ini ibarat roda, terkadang menangis, terkadang tertawa. Oleh karena itu, nikmati hidup dengan dua hal: pandai bersyukur ketika mendapatkan nikmat dan bersabar ketika diuji oleh Allah.
Allah mencintai hamba yang pandai bersyukur dan bersabar. Di hari Jumat yang penuh berkah, kita dianjurkan memperbanyak shalawat kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan memohon kepada Allah agar menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur atas segala nikmat-Nya.




