Home Tafsir & Tadabbur Tafsir Surah Ad-Duha: Hiburan Allah untuk Rasulullah

Tafsir Surah Ad-Duha: Hiburan Allah untuk Rasulullah

Al-Qur'an
Ilustrasi Sebuah Al-Qur'an/Istock

Harmantajang.com – Surah Ad-Duha merupakan salah satu surah Makkiyah yang diturunkan oleh Allah di Kota Makkah. Al-Qur’an memiliki kedudukan yang sangat mendasar dan vital dalam kehidupan setiap muslim.

Seorang muslim hendaknya tidak mengharamkan dirinya dari keberkahan Al-Qur’an dan senantiasa berusaha menghafalkannya sedikit demi sedikit di tengah kesibukan harian.

Oleh karena itu, interaksi yang konsistent dan pembacaan Al-Qur’an secara berkesinambungan menjadi sumber barakah (keberkahan) yang nyata bagi kehidupan seorang hamba.

Asbabun Nuzul dan Latar Belakang Penurunan Surah Ad-Duha

Penurunan Surah Ad-Duha dilatarbelakangi oleh peristiwa terputusnya wahyu (fatratul wahyi) selama beberapa malam. Proses penerimaan wahyu sendiri secara fisik merupakan beban spiritual dan fisik yang amat berat bagi Rasulullah.

Baca Juga: Indahnya Istiqomah dalam Amal Shalih

Bunda Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan bahwa ketika wahyu turun di puncak musim dingin yang sangat menggigit, Rasulullah tetap bercucuran keringat saking beratnya bobot wahyu tersebut.

Meskipun penerimaan wahyu itu terasa begitu berat, Rasulullah  sangat mencintai dan senantiasa merindukan kedatangan Malaikat Jibril AS yang membawa pesan-pesan Ilahi.

Ketika wahyu berhenti turun selama beberapa waktu, timbul rasa sedih, gundah, dan kerinduan yang mendalam di dalam hati sanubari beliau.

Cemoohan Kaum Musyrikin Quraisy dan Sosok Ummu Jamil

Terhentinya wahyu dimanfaatkan oleh kaum musyrikin Quraisy untuk mencela dan mengejek Rasulullah. Situasi ini diperparah oleh intimidasi verbal dari tokoh musyrik, khususnya istri Abu Lahab.

Berikut adalah rincian bentuk cemoohan kaum musyrikin dan karakteristik tokoh yang terlibat:

Pertama, Bentuk Ejekan Kaum Musyrikin: Kaum musyrikin Quraisy menyebarkan tuduhan Wadda’ahu rabbuhu wa qala, yang berarti bahwa Muhammad telah ditinggalkan oleh Tuhannya dan Tuhannya telah benci serta marah kepadanya.

Kedua, Sosok Ummu Jamil (Ummu Qabih): Istri Abu Lahab memiliki nama asli Ummu Jamil (yang berarti indah), namun para ulama sering mejulukinya Ummu Qabih (yang buruk) karena keburukan tabiat, akhlak, dan perilakunya.

Ketiga, Sifat Kikir dan Perilaku Ummu Jamil: Meskipun tergolong kaya raya, ia memiliki sifat sangat kikir hingga kikir terhadap dirinya sendiri.

Baca Juga: Kaya & Lapang Itu Ujian: Memahami Hakikat Nikmat dalam Islam

Di abadikan dalam Al-Qur’an sebagai hammalatal hathab (pembawa kayu bakar), ia menolak menyewa pembantu dan memilih mengangkut kayu bakar sendiri karena sifat pelitnya.

Dialog Rasulullah dengan Malaikat Jibril

Kesedihan Rasulullah akhirnya terobati ketika Malaikat Jibril kembali turun membawa Surah Ad-Duha. Saat bertemu, Rasulullah  bertanya kepada Jibril alasan keterlambatannya dan mengapa beliau tidak berkunjung (berziarah) selama beberapa malam.

Jibril kemudian menyampaikan wahyu yang menegaskan bahwa para

Allah  mengetahui segala sesuatu dari arah depan maupun belakang, dan keterlambatan wahyu tersebut memiliki hikmah tersendiri tanpa sedikit pun berarti Allah lupa atau meninggalkan Nabi-Nya.

Kerinduan mendalam Rasulullah akan kehadiran Jibril memberikan pelajaran penafsiran yang berharga mengenai keutamaan mencintai dan bersahabat dengan orang-orang saleh.

Hubungan spiritual antara Nabi dan Jibril menjadi cermin bagaimana ikatan persahabatan berbasis keimanan membawa keselamatan hingga akhirat. Para ulama menjelaskan bahwa orang-orang saleh dapat saling memberikan syafaat di hari kiamat.

Imam Syafi’i pernah mengungkapkan kecintaannya kepada orang saleh: “Saya mencintai orang-orang saleh walaupun saya bukan bagian dari mereka, dan saya berharap mendapatkan syafaat melalui mereka”).

Rasulullah juga menegaskan dalam hadis al-mar’u ma’a man ahabba bahwa seseorang akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya.

Dalam sebuah riwayat dikisahkan, seorang hamba yang berada di neraka diangkat ke surga atas permintaan sahabatnya yang saleh yang merasa nikmat surga belum lengkap tanpa kehadirannya.

 Peristiwa tersebut membuat penghuni neraka lainnya meratap karena tidak memiliki teman dekat yang saleh untuk memberikan syafaat (“maka kita tidak mempunyai seorang pemberi syafaat pun, dan tidak pula mempunyai teman setia yang mencintai kita”).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here