Teguh dalam Ketaatan, Jalan Menuju Akhirat!

lorong
Ilustrasi jalan lorong/Unplash

Harmantajang.com – Apakah dengan semua amal shalih yang sudah kita lakukan itu berarti kita berhenti dan sudah cukup sampai di situ? Jawabannya tentu saja tidak. Untuk itu tetap teguh dalam ketaatan, jalan menuju akhirat.

Kumpulkan Pahala Selama Nafas Berhembus

Keharusan seorang muslim, selama nafas masih berhembus, selama nyawa masih dikandung badan, dan selama kita masih hidup di dunia, tidak ada kata berhenti untuk mengumpulkan sebanyak mungkin bekal untuk kita bawa pulang menghadap Allah.

Allah berfirman:

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ * وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ

Artinya:

“Maka apabila engkau (Muhammad) telah selesai (dari satu urusan), maka bersiaplah, dan hanya kepada Tuhanmu-lah hendaknya engkau selalu berharap.”  (Surah Al-Insyirah:7-8).

Baca Juga: Akhirat bukan Akhir, Tapi Awal dari yang Kekal

Pesan dari ayat ini menunjukkan bahwa selesai dari satu kebaikan seharusnya tidak boleh membuat diri merasa puas lalu berhenti karena sudah merasa cukup. Karena seorang manusia tidak pernah tahu apakah amal itu sudah diterima atau tidak.

Oleh karena itu, setiap dari diri manusia harus mempunyai persediaan kebaikan dan amal shalih yang cukup sebelum saatnya menghadap Allah nanti. Selain itu, seorang muslim seharusnya punya obsesi dan impian Akhirat yang tinggi.

Semua Perkara Dunia Sifatnya Fana

Baca Juga: Zaman Penuh Fitnah, Tetap Menjaga Lisan dan Tulisan

Berkaitan dengan urusan pekerjaan dan bisnis, bukankah kita selalu berharap bisa mendapatkan posisi dan keuntungan yang lebih tinggi dari sebelumnya?. Dalam urusan pendidikan dan akademik, bukankah kita selalu berharap bisa meraih yang setinggi-tingginya?.

Demikinalh halnya, dalam urusan tempat tinggal dan kendaraan, bukankah kita selalu terobsesi untuk punya yang lebih baik dan lebih nyaman?. Padahal jabatan dan bisnis itu tidak akan pernah kita bawa pulang ke Akhirat.

Seperti diektahui, gelar akademik setinggi apapun tidak akan pernah berguna di Akhirat nanti. Padahal properti dan kendaraan itu tidak akan pernah ikut saat kita mati nanti. Karena yang mengikuti kita hanyalah amal shalih yang kita lakukan dari waktu ke waktu.

Perlu diketahui, salah satu sifat yang harus selalu hadir dalam diri kita adalah motivasi jiwa untuk selalu konsisten melakukan ibadah, ketaatan dan amal shalih hingga dipanggil oleh Allah.

Sahabat mulia, Sufyan bin Abdillah al-Tsaqafy radhiyallahu ‘anhu pernah meminta nasihat langsung kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

يَا رَسُولَ اللَّهِ، قُلْ لِي فِي الإِسْلامِ قَوْلًا لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدَاً غَيْرَكَ -أَوْ قَالَ: بَعْدَكَ –

Artinya:

“Wahai Rasulullah, sampaikanlah padaku satu pesan dalam Islam ini yang aku tak perlu lagi menanyakannya kepada seorang pun selain kepada Tuan-atau dia mengatakan: sepeninggal Tuan-.”

Istiqamahlah di Jalan Allah

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قُلْ: آمَنْتُ بِاللَّهِ، ثُمَّ اسْتَقِمْ

Artinya:

“Ucapkanlah: ‘Aku beriman kepada Allah’, kemudian istiqamahlah (konsistenlah dengan itu).”  (HR. Muslim).

Istiqamah dalam kebaikan, keshalihan, ketaatan inilah yang menjadi rahasia utama para penghuni Surga nanti. Kebanyakan penghuni Surga mungkin bukanlah hamba-hamba Allah yang semasa hidupnya melakukan amalan-amalan spektakuler dan besar.

Tetapi mereka, para penghuni Surga itu mungkin hanya melakukan amal-amal sederhana, amal-amal yang tampak biasa dan standar sehari-hari-seperti tidak berbuat syirik, menjaga shalat, menundukkan pandangan, meninggalkan yang haram, tersenyum saat bertemu, atau menyingkirkan gangguan di jalan umum.

Tetapi rahasia utamanya ada pada konsistensi dan keistiqamahan mereka dalam melakukan itu semua! Mereka tidak membiarkan satu pun alasan-alasan dunia menghalangi mereka untuk shalat misalnya.

Dan itu terus mereka lakukan hingga meninggalkan dunia ini. Karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berpesan:

وَإِنَّ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ مَا دُوْوِمَ عَلَيْهِ، وَإِنْ قَلَّ

Artinya:

“…Dan sungguh amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan berkelanjutan, meskipun sedikit…”  (Muttafaqun alaihi).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here