Harmantajang.com – Waktu adalah salah satu nikmat Allah yang paling berharga dalam kehidupan manusia. Ia terus berjalan tanpa menunggu kesiapan kita, tidak dapat dihentikan oleh keinginan, dan tidak bisa diputar kembali oleh penyesalan.
Setiap detik yang berlalu membawa kita semakin dekat kepada akhir kehidupan. Namun, tidak sedikit manusia yang baru menyadari betapa berharganya waktu setelah kesempatan untuk memanfaatkannya semakin sempit.
Waktu yang Lenyap dan Penyesalan yang Terlambat
Waktu adalah satu-satunya aset dalam hidup yang tidak bisa diputar ulang atau dibeli kembali. Setiap detik yang berlalu seperti jam 12 siang hari ini tidak akan pernah sama dengan jam 12 esok hari atau kemarin.
Sayangnya, kelalaian dalam memanfaatkan waktu sering kali menjadi pemicu penyesalan terbesar manusia saat berhadapan dengan akhirat kelak.
Allah menggambarkan betapa dramatisnya jeritan para penghuni neraka Jahannam. Mereka berteriak minta dikeluarkan agar diberi satu kesempatan lagi untuk hidup dan beramal shalih.
Baca Juga: Satu Ucapan, Seribu Akibat: Menjaga Lisan
Namun, jawaban yang diterima sungguh menohok: bukankah kesempatan dan umur yang panjang sudah pernah diberikan semasa di dunia? Di sana, tidak ada lagi tombol “ulang” untuk memperbaiki masa lalu.
Empat “Soal Ujian” Wajib di Hari Kiamat
Agar kita tidak terjebak dalam penyesalan yang sia-sia, Rasulullah sudah membocorkan skenario ujian akhirat sejak jauh hari.
Dalam sebuah hadits shahih Dari Abu Barzah Al-Aslami, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ
“Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai: (1) umurnya di manakah ia habiskan, (2) ilmunya di manakah ia amalkan, (3) hartanya bagaimana ia peroleh dan (4) di mana ia infakkan dan (5) mengenai tubuhnya di manakah usangnya.” (HR. Tirmidzi no. 2417).
Kunci untuk lulus dari “sidang” ini sederhana: perbaiki gaya hidup sekarang juga. Perbanyak taubat, rapihkan hubungan dengan Allah (hablum minallah), dan jaga keharmonisan hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas).
Baca Juga: Bosan Beramal? Ingat Tujuan Akhiratmu Kelak
Mumpung Masih Ada Waktu: Rumus “5 Sebelum 5”
Untuk menjaga kesadaran akan pentingnya waktu, Rasulullah memberikan resep ampuh lewat nasihat “Ightanim Khamsan Qabla Khams” (Manfaatkan 5 perkara sebelum datang 5 perkara):
Pertama, Masa muda sebelum datang masa tua. Kedua, Masa sehat sebelum datang masa sakit.
Ketiga, Masa kaya/lapang sebelum datang masa miskin. Keempat, Masa luang before datang masa sibuk. Kelima, Masa hidup sebelum datang kematian.
Puncak dari segala bentuk penyesalan terjadi ketika sakaratul maut tiba, di mana manusia baru menyadari betapa banyaknya ibadah yang terlewat dan dosa yang pernah diperbuat.




