Harmantajang.com – Dari Abu Dzar Al Ghifari Radhiyallahu ‘anhu salah seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Ya Rasulullah bagaimana gerangan zuhuf yang diberikan kepada Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam”, Nabi berkata:”Ayat-ayat yang ada didalamnya itu penuh dengan permisalan-permisalan”.
Bahkan dalam Al-Qur’an banyak permisalan yang disebutkan oleh Allah. Dalam zuhuf Ibrahim banyak permisalan-permisalan diantaranya yang disampaikan oleh Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wasallam yang didalamnya banyak fawaid:
Baca Juga: Tempat yang Abadi, Sejauh Mana Ketergantunganmu dengan Negeri Akhirat?
“Hendaknya bagi orang yang berakal itu memiliki 3 waktu”, maksudnya dia membagi waktunya 3 bagian dan ini pelajaran bagi kita agar membagi waktu keseharian kita yang 24 jam menjadi 3 bagian.
Sepertiga waktu pertama, dia pergunakan untuk munajah kepada tuhannya, berdoa, berdzikir, menunaikan sholat, tilawah Al-Qur’an. Dengan kata lain waktu ini digunakan seorang hamba untuk melakukan rutinitas ibadahnya.
Sepertiga yang kedua menggunakan waktunya untuk bermuhasabah atau mengevaluasi diri dari apa yang ia lakukan pada hari itu, jika yang ia kerjakan itu baik maka lakukan dan tingkatkan dan jika buruk beristighfar kepada Allah dan bertekad esok hari mengerjakan yang lebih baik dari hari ini.
Sepertiga yang ketiga, digunakan untuk mencari nafkah baik berupa makan, minum dan nafkah untuk keluarganya. Ini diantara permisalan yang disebutkan dalam zuhuf Ibrahim yang menunjukkan bagaimana manusia diperintahkan untuk menyeimbangkan antara dunia dan akhiratnya dan hatinya senantiasa bergantung pada kehidupan akhirat.
Abu Dzar bertanya lagi:”Bagaimana Zuhuf Musa Ya Rasulullah”, Rasulullah menjawab:”Penuh dengan ibrah (pelajaran), ujar -ujar dan hikmah”, diantaranya adalah:
Baca Juga: ‘Pekerja Keras’ Merupakan Sikap Keteladanan dari Para Nabi dan Rasul-Nya
“Saya heran terhadap orang yang yakin dengan takdir bagaimana dia masih bersedih, padahal dia tahu bahwa apa yang terjadi didunia ini tidak keluar dari ketentuan dan pengaturan Allah Subhanahu wata’ala, Saya heran dengan orang yang yakin akan mati bagaimana dia berlarut-larut dan bersenang-senang dalam kehidupan dunia, Saya heran dengan orang yang yakin akan hari pembalasan (hisab) mengapa dia tidak memperbanyak untuk melakukan amalan sholeh, Saya heran dengan orang yang yakin bahwa dunia ini hanyalah sementara namun mengapa ia terlalu ridho dan bersenang-senang berada diatasnya”.
Maka dengannya turunlah Al-Qur’an yang menjadi petunjuk kita yang kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:
تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ
“Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya”.(Hadits Shahih Lighairihi).




