Harmantajang.com – Allah berfirman di dalam Al- Qur’an surat Qaf Ayat 18:
:
مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
Artinya: Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.
Suatu hari ketika Imam Ahmad sakit, beliau dijenguk oleh seorang muridnya atau temannya dan terdengar suara erangan dan rintihan Imam Ahmad yang sedang sakit kemudian mengingatkan beliau dengan firman Allah diatas.
Padahal rintihan ini sebenarnya wajar orang yang kesakitan tapi setelah beliau diingatkan dengan ayat itu Dikatakan setelah dibacakan ayat itu Kepada beliau tidak didengar lagi rIntihan dari Imam Ahmad.
Sebab semua yang terlontar dari lisan kita dicatat di sisi Allah dan kita akan pertanggungjawabkannya nanti di hari kemudian sampai perkataan-perkataan kita yang mubah saya makan, minum, keluar, pergi sekolah saya, ke kantor itu semua tercatat di sisi Allah.
Tidak ada yang luput dari Allah dan akan kita lihat nanti di hari kemudianir ketika rahasia-rahasia itu diungkap tertulis dalam catatan amalan kita semuanya. Tercatat disitu dari yang paling kecil sampai yang paling besar tercatat di sisi-Nya dan tidak ada yang dizalimi.
Terutama lisan yang merupakan anggota tubuh tidak bertulang tetapi bisa menjadi menjadi pedang bermata dua. Ia bisa menyelamatkan kita dan bisa juga menyengsarakan kita menyelamatkan kita ketika kita gunakan nisan ini untuk kebaikan.
Misalnya, perkataan yang baik seperti dzikir yang baik, tilawatul Qur’an, berdakwah di jalan Allah, kemudian memasukkan kegembiraan ke dalam hati saudara kita orang yang beriman. Semua ini bisa mengantarkan diri kita dalam kebaikan untuk seterusnya mengantarkan kita ke surga.
Baca Juga: Air Wudhu Tertelan Ketika Kumur-kumur, Apakah Membatalkan Puasa?
Tapi sebaliknya kalau lisan Ini digunakan untuk keburukan hal-hal yang sia-sia apalagi sampai dalam perbuatan doa, begitu pula dengan gibah menceritakan kejelekan saudara kita itu bisa menjadi sebab kebinasaan kita dan dimasukkan ke dalam neraka.
Pernah suatu ketika Aisyah Radhiallahu anha disebabkan kecemburuan kepada istri Nabi yang lain bernama Sofiah. Aisyah berkata: ‘Ya Rasulullah Ya cukupkan dirimu dari Sofiah’ dan dia memberi isyarat dengan tangannya seakan hendak mengatakan Sofia ini orangnya pendek dan saya lebih cantik dari dia.
Nabi kemudian berkata ‘Wahai Aisyah engkau mengatakan sebuah perkataan yang andaikan perkataan itu dicelupkan dalam lautan maka akan mengotori lautan itu’. Dari sini Nabi mengingatkan kita perkataan yang sederhana tetapi di dalamnya ada unsur gibah mengotori laut.
Apalagi jika setiap hari kita menghiasi lisan kita dengan gosip menceritakan kejelekan orang lain dan disertai dengan fitnah ditambah lagi dengan mengadu domba dan seterusnya maka ini bisa menyebabkan kebinasaan seorang hamba.
Baca Juga: Apakah Ahli Waris Harus Mengganti Puasa Orang Tuanya yang Sudah Meninggal? (Q & A Part 42)
Dari sinilah mengapa Abu Bakar As-Siddiq pernah suatu hari beliau memegang lidahnya seraya berkata inilah yang akan menjadi sebab saya dimasukkan ke dalam kebinasaan, makanya jaga lisan kita dengan baik kata dari sini Rasulullah mengatakan:
مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ
“Siapa yang menjamin untukku apa yang ada di antara dua tulang rahangnya (lisan) dan yang ada di antara dua kakinya (kemaluan) maka aku akan menjamin surga baginya.” (HR al-Bukhari).
(Disadur dari Program Ramadhan Healing Eps: 14)