Waspada, Jabatan dan Kekuasaan Bisa jadi Sumber Penyesalan di Hari Kemudian

0
381
Ilustrasi pengandilan/Unplash

Harmantajang.com – Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ

Maka dia berkata:“Tuhanku menghinakanku”. (QS. Al-Fajr: 16).

Anggapan orang kafir dalam ayat ini sangat keliru, oleh karenanya ayat berikutnya Allah langsung membantah mereka:

كَلَّا ۖ بَلْ لَا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ

“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim”. (QS. Al-Fajr : 17).

Baca Juga: Bagaimana Kiat Hidup Bahagia Meski Banyak Masalah (Q & A Part 11)

Allah berkata:” كَلَّا  (Sekali – kali tidak) ukuran kemuliaan bukan harta, pangkat, jabatan dan kekuasaan bahkan dia akan menjadi penyesalan dihari kemudian dan menjadi boomerang jika disalah gunakan, Allah berfirman:

وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِشِمَالِهِ فَيَقُوْلُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُوْتَ كِتَابِيَهْ (25) وَلَمْ أَدْرِ مَا حِسَابِيَهْ (26) يَا لَيْتَهَا كَانَتِ الْقَاضِيَةَ (27) مَا أَغْنَى عَنِّي مَالِيَهْ (28) هَلَكَ عَنِّي سُلْطَانِيَهْ (29)

“Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata:”Aduhai, alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini). Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang pula kekuasaanku daripadaku”. (QS. Al-Haqqoh: 25-29).

Dia menghambur-hamburkan hartanya dalam kemaksiatan atau hal-hal yang sifatnya mubah tapi dia malas berinfaq dan bersedekah sehingga dia tidak mendapatkan pahala dari harta yang ia miliki dihari kemudian.

Kekuasaan, pangkat dan jabatan di zaman ini orang saling berebut untuk mendapatkannya, saling menjatuhkan, saling mendahului, saling melempar tuduhan atau gelar-gelar buruk demi untuk mendapatkan kedudukan dan kekuasaan semuanya itu adalah penyesalan dihari kemudian.

Harun Ar Rasyid seorang mantan khalifah ketika diakhir hidupnya ia dalam kondisi sakit keras beliau berkata kepada pengawalnya:”Tolong bawa aku ditempat dimana aku nanti dikuburkan“.

Baca Juga: Bagaimana Hukum Lafadz Sayyidina dalam Shalawat dan Sholat?

Dibawalah beliau ke tempat itu ketika beliau melihat lubang kubur yang disiapkan untuknya, beliau menunjuk ke langit dengan berdoa:”Wahai yang tidak pernah hilang kekuasaannya kasihani hambamu ini yang telah hilang kekuasaannya”.

Kekuasaan tidak ada yang kekal karena andaikan kekuasaan kekal bagi seseorang maka tidak mungkin kekuasaan itu berpindah kepada orang lain, Allah berfirman:

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Katakanlah:”Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS. Ali-‘Imran: 26).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here