Tetaplah Beramal Saleh Sampai Ajal Menjemputmu

0
836
Ilustrasi seorang sedang beribadah/istock

Harmantajang.com – Berlomba-lombalah dalam mengerjakan kebaikan karena setiap kebaikan ada waktu dan masa kesempatan itu dicabut oleh Allah Subhanahu wata’ala. Terutama ketika sampai pada ajal, maka tidak ada lagi waktu untuk mengerjakan amalan sholeh.

Suatu ketika Rasulullah menjenguk pamannya yang bernama Al Abbas yang sakit keras dan dia mengharapkan kematian, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan:

Mintalah pemaafan dan keselamatan dan kesehatan dari Allah”. Beliau melarang pamannya untuk meminta kematian karena selama seseorang masih hidup walaupun dalam kondisi sakit masih banyak amalan-amalan sholeh yang bisa ia kerjakan.

Bahkan sampai ketika ia terbaring diatas pembaringannya, dia masih bisa berdzikir, hatinya masih bisa mengingat Allah dan itu masih bisa menjadi pemberat timbangan amalan kebajikannya.

Masih bisa bertaubat kepada Allah, masih bisa mengerjakan sholat walaupun dalam keadaan duduk, berbaring atau dengan isyarat atau dalam hati. Semua itu masih dalam amalan sholeh baginya.

Rasulullah memerintahkan kita dalam hadist ini:”Bersegeralah engkau sekalian melakukan amalan-amalan -yang baik ”.

Apakah engkau sekalian menantikan enggan melakukan dulu, melainkan setelah tibanya kefakiran yang melalaikan. Ketika dia menjadi kaya dia lupa kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Nanti ketika jatuh miskin dia baru mau bersedekah, Abu Hurairah meriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki yang datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya:”Wahai Rasulullah, sedekah apa yang paling utama?”.

Beliau menjawab:

« أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ ، تَخْشَى الْفَقْرَ وَتَأْمُلُ الْغِنَى ، وَلاَ تُمْهِلُ حَتَّى إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ قُلْتَ : لِفُلاَنٍ كَذَا ، وَلِفُلاَنٍ كَذَا ، وَقَدْ كَانَ لِفُلاَنٍ » .

Engkau bersedekah dalam kondisi sehat dan berat mengeluarkannya, dalam kondisi kamu khawatir miskin dan mengharap kaya. Maka janganlah kamu tunda, sehingga ruh sampai di tenggorokan, ketika itu kamu mengatakan:”Untuk fulan sekian, untuk fulan sekian, dan untuk fulan sekian”, Padahal telah menjadi milik si fulan”.(HR. Bukhari dan Muslim).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here